Bina Desa Pedungan Dorong Pengelolaan Sampah Organik dan Penguatan Pendidikan

  • 30 Jul 2026 06:37 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Mahasiswa melalui Program Bina Desa Pedungan 2026 berupaya memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan dan pendidikan di Kelurahan Pedungan, Kota Denpasar. Program yang berlangsung selama Maret hingga Juni 2026 ini difokuskan pada pengelolaan sampah organik serta penguatan kemampuan bahasa asing bagi siswa sekolah dasar.

Sekretaris Tim Bina Desa Pedungan 2026, Tisya Anindita, Kepada RRI.CO.ID, Rabu, 8 Juli 2026 mengatakan pemilihan Kelurahan Pedungan didasarkan pada hasil observasi bersama pemerintah kelurahan dan desa adat yang menunjukkan adanya kebutuhan penanganan sampah organik serta peningkatan pendidikan bahasa asing. Menurutnya, tim yang melibatkan mahasiswa Sastra Jepang tersebut memanfaatkan kompetensi yang dimiliki untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang kepada siswa sekolah dasar, di samping memberikan pembelajaran bahasa Inggris.

"Setelah melakukan observasi, kami melihat ada kebutuhan dalam pengelolaan sampah organik dan penguatan pendidikan, khususnya bahasa asing. Karena itu kami menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujar Tisya kepada RRI.

Di bidang lingkungan, tim Bina Desa melaksanakan sosialisasi sekaligus praktik pembuatan ekoenzim, yaitu cairan hasil fermentasi limbah organik berupa kulit buah yang dicampur air dan larutan gula merah atau molase selama satu hingga tiga bulan. Menurut Tisya, ekoenzim memiliki berbagai manfaat, mulai dari pupuk organik, cairan pembersih alami, hingga membantu mengurangi bau dan meningkatkan kualitas air ketika diaplikasikan pada saluran air atau sungai.

Selain ekoenzim, mahasiswa juga mengedukasi masyarakat dan siswa sekolah dasar mengenai pembuatan lubang biopori sebagai upaya meningkatkan daya resap tanah serta memperkenalkan pembuatan potpourri, yakni pengharum ruangan berbahan dasar bunga dan kulit buah kering.

Sementara pada sektor pendidikan, mahasiswa memberikan pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jepang, serta pengenalan budaya Jepang melalui permainan edukatif, kosakata sederhana, hingga tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Tisya menyebutkan, seluruh program mendapat respons positif dari masyarakat maupun siswa.

Bahkan, sejumlah warga mulai mempraktikkan pembuatan ekoenzim secara mandiri setelah mengikuti pelatihan yang diberikan. Sebagai bentuk keberlanjutan program, Tim Bina Desa Pedungan juga menyerahkan luaran berupa website dan majalah kepada pihak kelurahan agar dapat dimanfaatkan sebagai media informasi dan edukasi masyarakat setelah kegiatan berakhir.

"Kami berharap seluruh program yang telah dijalankan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat terus diterapkan masyarakat sehingga manfaatnya berkelanjutan, baik dalam pengelolaan lingkungan maupun pengembangan pendidikan," kata Tisya.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan masyarakat, Program Bina Desa Pedungan diharapkan mampu menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan lokal yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....