Denpasar Belajar dari Jakarta untuk Perkuat Implementasi Kawasan Rendah Emisi

  • 20 Jul 2026 11:37 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Kota Denpasar terus memperkuat langkah menuju transportasi berkelanjutan melalui implementasi Kawasan Rendah Emisi (KRE). Untuk memperkaya penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) KRE Sanur, Tim Penyusun RAD KRE Kota Denpasar melakukan kunjungan studi ke Kawasan Kota Tua Jakarta pada 15–16 Juli 2026 guna mempelajari praktik baik penerapan Low Emission Zone (LEZ) yang telah lebih dahulu diterapkan di ibu kota.

Kunjungan tersebut dilakukan di tengah tingginya tekanan sektor transportasi di Denpasar. Saat ini sebanyak 1,85 juta kendaraan bermotor terdaftar di Kota Denpasar atau sekitar 33,5 persen dari total kendaraan di Bali.

Sementara itu, sektor transportasi menyumbang sekitar 43 persen emisi gas rumah kaca Provinsi Bali, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 16 persen. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Denpasar mempercepat implementasi KRE, khususnya di kawasan Sanur sebagai destinasi wisata.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, mengatakan pendekatan melalui sektor transportasi dinilai menjadi langkah paling efektif dalam mewujudkan kawasan rendah emisi. "Kota Denpasar ingin mengarah pada transportasi berkelanjutan, dan pendekatan paling dekat untuk Kawasan Rendah Emisi Kota Denpasar dirasa lebih cepat intervensinya lewat sektor transportasi. KRE Sanur sebagai destinasi wisata sehingga fasilitas wisata yang aman dan nyaman, perlu didukung dengan kualitas udara yang bagus," ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Kota Denpasar juga mempelajari penerapan LEZ di Kota Tua Jakarta yang membatasi kendaraan pribadi serta didukung transportasi publik seperti TransJakarta dan KRL. Kasubag TU UPSPLL Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Irani Handalia, menegaskan keberhasilan kawasan rendah emisi sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor.

"Setiap kawasan yang direncanakan rendah emisi otomatis melibatkan hampir seluruh OPD, dari yang mengurus logistik dan pergudangan, transportasi massal, infrastruktur pejalan kaki, area pedagang/UMKM, hingga fasilitas pendukung seperti angkutan umum dan seluruh koordinasi itu berada di bawah satu komando dari mandat, bukan di level dinas teknis semata serta dimonitoring perkembangannya berdasarkan asas pembangunan dan lingkungan hidup," jelasnya.

Senior Manager for Resilience Cities & Transport WRI Indonesia, I Made Vikananda, menambahkan pembelajaran dari Jakarta akan menjadi bekal penting dalam menyusun RAD KRE Sanur. "Kami saat ini sedang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar untuk mendorong Perwali Kawasan Rendah Emisi diterjemahkan sebagai rencana-rencana strategis. Ketika penataan kawasan dilakukan dengan baik, hal ini mendukung peralihan kendaraan bermotor ke jalan kaki, sepeda, dan penggunaan shuttle sehingga peralihan mobilitas pengunjung KRE bisa dibantu menjadi semudah mungkin," ujarnya.

Menurutnya, desain kawasan yang mengutamakan pejalan kaki akan membantu menurunkan emisi sekaligus meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan mobilitas masyarakat sesuai karakteristik Kota Denpasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....