Pemerintah Jerman Alokasikan 20 Juta Euro untuk Program Living High Seas

  • 07 Jun 2026 18:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Nusa Dua - Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) akan melaksanakan program Living High Seas pada tahun 2026. Program dengan nilai pendanaan 20 juta Euro itu bakal berjalan hingga tahun 2031.

Tujuan program ini adalah untuk memperkuat konservasi laut di beberapa negara termasuk Indonesia. Selain Indonesia, negara mitra organisasi dari Pemerintah Federal Jerman itu adalah Senegal, Brazil dan Mikronesia.

Manager Living High Seas GIZ Indonesia dan ASEAN Yuliana Cahya Wulan menjelaskan, pihaknya bermitra dengan negara penggerak pertama dari perjanjian Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ). Ia menjelaskan nilai investasi dalam proyek Living High Seas itu rencananya mulai dikucurkan pada 2026.

Implementasi dari program ini dalam bentuk dukungan teknis dan lainnya melalui International Climate Initiatives. Pengejawantahan tersebut sebagai bagian komitmen awal negara itu dalam mendukung berlakunya perjanjian BBNJ.

"Melalui BBNJ, kerja sama konservasi mulai bergeser dari negosiasi menuju implementasi nyata, salah satu fokusnya memperkuat upaya konservasi laut termasuk pengembangan wilayah konservasi laut (Marine Protected Area/MPA)," katanya di sela-sela peringatan Hari Laut Sedunia dan Segitiga Terumbu Karang di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Minggu 7 Juni 2026.

"Untuk proyek tersebut, pihaknya akan fokus pada instrumen pengelolaan (Area Base Management Tools/ABMT) termasuk di dalamnya MPA," lanjutnya.

Wulan menyampaikan, salah satu fokus program ini adalah membantu negara-negara mitra mengumpulkan data ilmiah terkait kawasan laut lepas yang berada di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan di luar yurisdiksi negara mana pun. Diakui, masih banyak kekurangan data dan informasi mengenai kawasan laut lepas.

Di sisi lain, kawasan ini sangat rentan terhadap eksploitasi karena dapat diakses berbagai pihak tanpa pengawasan yang memadai. Selain pengumpulan data, program ini juga akan memperkuat kapasitas negara-negara mitra, termasuk Indonesia, dalam menentukan kawasan yang perlu dilindungi serta merancang model pengelolaan yang mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

"Dalam pelaksanaannya, GIZ akan bermitra dengan sejumlah organisasi internasional seperti Global Ocean Biodiversity Initiative (GOBI) dan International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia, kerja sama akan dilakukan bersama Konservasi Indonesia," jelasnya.

"Meskipun fokus kegiatan berada di kawasan laut lepas di luar wilayah yurisdiksi nasional, manfaatnya juga akan dirasakan oleh wilayah perairan Indonesia, termasuk Bali," imbuhnya.

Sementara itu, Country Director GIZ Indonesia dan ASEAN Hans Bruns Ludwig menjelaskan kemitraan dengan Indonesia telah berlangsung selama 50 tahun. Selama setengah abad, kemitraan telah menandai kemajuan signifikan dari awalnya pengembangan kapasitas teknis dalam kesehatan, pendidikan, sosial hingga berkembang terkait perubahan iklim, penanganan kebencanaan, hingga pembangunan ekonomi.

"Kedua negara, juga saling berbagi pengalaman dan belajar mengingat Indonesia memiliki bonus demografi penduduk usia muda dengan total populasi mencapai 280 juta jiwa, sedangkan di negara kami 80 juta jiwa," sebutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....