BKSDA Bali Dorong Konsep “The New Kintamani” untuk Tata Kelola Kawasan yang Adaptif
- 11 Mei 2026 10:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Bangli - Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Bali mulai menggulirkan usulan konsep The New Kintamani sebagai arah baru pengelolaan kawasan konservasi dan pariwisata di Kintamani, Bangli. Konsep ini menitikberatkan pada pengelolaan bentang alam yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Usulan tersebut disampaikan dalam kegiatan Konsolidasi Para Pihak Konsep The New Kintamani yang digelar di Aula Museum Geopark Batur, Kintamani, Jumat 8 Mei 2026. Kegiatan dihadiri 46 stakeholder dari unsur pemerintah daerah, pengelola kawasan, desa adat, pelaku wisata, kelompok masyarakat, hingga aparat keamanan.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, mengatakan pengelolaan kawasan konservasi di Kintamani perlu dilakukan secara adaptif mengikuti perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada nilai konservasi dan keberlanjutan masyarakat lokal.
“Pengelolaan kawasan konservasi di Kintamani harus dilaksanakan secara adaptif dan kolaboratif, yaitu pengelolaan bentang alam yang mendukung kegiatan pariwisata sesuai nilai konservasi, didukung para pihak, serta mampu memberikan manfaat yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, BKSDA Bali mengidentifikasi sedikitnya sembilan isu strategis di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan. Di antaranya penataan aktivitas jeep wisata dan pendakian, pengelolaan pedagang, penguatan sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli dan Geopark Batur, hingga penataan objek wisata baru di kawasan konservasi.
Konsep The New Kintamani dirancang melalui sejumlah tahapan mulai dari sosialisasi awal, pertemuan tematik dengan kelompok masyarakat dan pelaku wisata, hingga forum besar lintas pihak yang ditargetkan berlangsung bertahap hingga Oktober 2026. Seluruh proses nantinya akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan pengelolaan kawasan berjalan lebih tertata dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap konsep tersebut juga datang dari berbagai pihak. Kepala Bidang Destinasi Wisata Kabupaten Bangli, Gede Budiastawa, menyatakan pihaknya mendukung penguatan kolaborasi lintas sektor demi mewujudkan pengelolaan kawasan Kintamani yang lebih baik. Sementara pelaku wisata dan desa adat berharap konsep ini mampu menghadirkan kepastian penataan kawasan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....