Menjaga Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Jatiluwih
- 21 Apr 2026 18:22 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Tabanan – Pelestarian sistem Subak sebagai warisan budaya dunia terus menjadi fokus utama masyarakat di kawasan Jatiluwih Rice Terraces. Sistem irigasi tradisional khas Bali ini tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga penopang keberlanjutan pertanian dan pariwisata di daerah tersebut.
Manager Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, kepada RRI.CO.ID pada Minggu, 17 April 2026 menjelaskan bahwa Subak berakar pada konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. “Subak itu sebenarnya warisan dari budaya leluhur kita yang ada di Bali, bagaimana pengaturan air. Bagaimana kita menghormati air yang sudah memberikan kita kehidupan khususnya untuk irigasi pertanian yang ada di desa Jatiluwih dan di seluruh desa yang ada di Bali,” ujarnya.
Menurutnya, Subak penting dijaga karena merupakan warisan leluhur sekaligus sistem pembagian air yang adil bagi seluruh petani. Pembagian air dilakukan berdasarkan luas lahan, baik untuk sawah di kawasan hulu maupun hilir, sehingga seluruh petani mendapatkan hak yang setara.
“Semua pembagian itu berdasarkan aturan-aturan jumlah luas lahan yang kita punya. Semakin besar kita punya luas lahan, itu semakin besar kita dapat pembagian air. Begitu juga pembagian air bagi yang ada di hulu sama yang ada di hilir. Semuanya mendapat bagian yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam menjaga keberlangsungan Subak saat musim kemarau adalah persoalan ketersediaan air, terutama saat musim kemarau. Karena itu, perbaikan saluran irigasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Tantangan utama di Subak itu masalah perairan air. Saat musim kemarau biasanya kita kekurangan air. Di sanalah sebenarnya harus kita gencarkan lagi, kita minta tolong ke pemerintah agar saluran irigasi yang ada di desa khususnya di Jatiluwih itu diperbaiki semuanya,” katanya.
Dalam konteks pariwisata, pelestarian Subak justru menjadi fondasi utama yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Begitu kita bisa melestarikan Subak, melestarikan alam yang ada di desa kita khususnya Jatiluwih, pariwisata itu sebenarnya bonus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hasil dari sektor pariwisata turut dikembalikan untuk mendukung kesejahteraan petani, mulai dari pemberian pupuk gratis, bibit gratis, hingga bantuan dana upacara di pura Subak. Selain itu, pihaknya juga berupaya mengajak generasi muda untuk peduli terhadap pertanian melalui pengembangan pertanian organik dan konsep petani milenial.
“Kita yakin bahwa Jatiluwih menuju pertanian organik dan dengan pertanian organik kita akan bisa menjual hasil panen kita lebih mahal lagi. Saya yakin generasi muda itu akan bisa nyambi menjadi pegawai di kampungnya dan sekalian menjadi petani juga,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat terus menjaga Subak yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia agar manfaatnya terus dirasakan generasi mendatang. “Semakin bisa kita melestarikan warisan dari leluhur kita, kesempatan kita, bonus kita untuk turisme itu akan jauh lebih besar lagi di masa depannya,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....