Pengamat Soroti Dampak Konflik AS-Israel dan Iran pada Bali
- 03 Mar 2026 12:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai berpotensi memberi dampak signifikan terhadap sektor pariwisata Bali. Dampak tersebut terutama dirasakan dari sisi kenaikan harga energi dan rasa aman wisatawan global.
Koordinator Program Studi Industri Perjalanan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Dr. I Made Kusuma Negara, mengatakan meskipun pasar Eropa dan Timur Tengah tidak dominan, efek logistik global tetap terasa. Sekitar 20 persen pasokan energi dunia berada di kawasan konflik sehingga berpotensi memicu lonjakan harga minyak.
“Konflik ini pasti berdampak, terutama pada industri yang membutuhkan energi besar seperti avtur, yang kemudian berimbas pada harga tiket pesawat dan biaya perjalanan,” ujarnya.
Kusuma negara menjelaskan, dalam situasi ketidakpastian global, faktor psikologis menjadi pertimbangan utama wisatawan. Selain biaya perjalanan yang bisa mencapai hampir 50 persen dari total pengeluaran, suasana global yang tidak kondusif membuat orang cenderung memilih perjalanan jarak dekat atau bahkan menunda liburan.
Menurutnya, kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi pada sektor terkait pariwisata, mulai dari tiket pesawat, logistik, hingga bahan pokok impor. Jika kondisi berlangsung lama, pelaku usaha kemungkinan tidak lagi mampu menahan margin keuntungan dan terpaksa membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.
“Kenaikan harga energi pasti meningkatkan biaya operasional dan berimbas pada harga produk wisata,” katanya.
Kusuma menambahkan, diversifikasi pasar wisatawan penting untuk memperkuat ketahanan pariwisata Bali. Selain menggarap pasar Asia dan Australia, Bali juga perlu mengoptimalkan sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan digital sebagai penopang ketika sektor pariwisata tertekan.
“Kita harus menjaga citra Bali tetap aman karena pada dasarnya destinasinya aman, hanya akses perjalanannya yang terdampak,” ucapnya.
Kusuma negara berharap pemerintah dan masyarakat memperkuat sektor non-pariwisata seperti pertanian dan maritim agar ekonomi Bali tidak sepenuhnya bergantung pada sektor tersier. Dengan langkah antisipatif dan kolaboratif, Bali diharapkan tetap tangguh menghadapi dinamika global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....