Pentingnya Perencanaan Proyek Agribisnis untuk Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
- 13 Mei 2025 12:59 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Agribisnis bukan sekadar soal bercocok tanam. Agribisnis adalah bagian integral dari proyek pertanian yang mencakup aspek investasi, perencanaan, pengelolaan, hingga evaluasi dampak secara menyeluruh. Proyek agribisnis yang berhasil mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Prof. Dr. Ir. Ketut Arnawa, M.P., dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar menyatakan bahwa perencanaan Investasi merupakan Pilar Utama Proyek Agribisnis. Investasi di bidang pertanian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Diperlukan perencanaan yang matang terkait tiga aspek utama, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Proyek agribisnis harus disertai perhitungan arus kas atau cashflow—baik pengeluaran (outflow) maupun pemasukan (inflow). Pada tahun-tahun awal, sebagian besar proyek belum menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, analisis seperti Benefit-Cost Ratio (B/C), Net Present Value (NPV), dan payback period menjadi alat ukur penting dalam menilai kelayakan finansial jangka panjang,” Jelas Prof Arnawa saat di wawancara RRI, Jumat (09/05)
Ia pun memaparkan bahwa proyek pertanian tidak saja memberikan benefit bagi pemilik lahan atau investor, justru proyek tersebut mampu membuka lapangan kerja baru dan memberdayakan masyarakat sekitar. Seperti pengembangan perkebunan kopi di wilayah pedesaan tidak hanya memberikan pendapatan kepada petani, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dari akademisi dan dinas terkait dalam perencanaan investasi.
Keberlanjutan sumber daya alam menjadi faktor penting. Prof Arnawa mencontohkan, pembangunan bendungan tidak hanya mendukung sistem irigasi sawah, tetapi juga menjaga ketersediaan air secara berkelanjutan untuk lahan pertanian.
“Contoh lainnya proyek agribisnis adalah pengembangan perkebunan kopi. ini menjadi contoh strategis dari proyek agribisnis jangka panjang. Kopi ini kan tanaman tahunan yang membutuhkan waktu hingga tahun ke-4 atau ke-5 untuk mulai berbuah. Maka, proyek harus dirancang dengan mempertimbangkan produksi x harga = pendapatan, serta memperhitungkan kapan hasil bisa menutupi biaya awal dan memberikan keuntungan.” Tuturnya
segmentasi kopi arabika lebih diminati pasar internasional, sedangkan robusta lebih disukai di pasar lokal. aspek tersebut tentu dapat dipersiapkan secara matang pada proses perencanaan investasi pertanian, Namun menurutnya, keberhasilan bisnis kopi juga sangat tergantung pada kualitas (grade). Buyer umumnya hanya membeli kopi dengan grade 1 sampai 3. Oleh karena itu, bimbingan teknis, pengujian tanah, serta analisis kelayakan lahan menjadi bagian penting dari proses investasi.
Contoh lain disampaikan oleh Prof Arnawa adalah proyek Rice Milling Unit (RMU) yang diinisiasi oleh pemerintah daerah melalui Perumda. Proyek ini memungkinkan petani memiliki akses ke fasilitas penggilingan padi berkualitas, sehingga nilai jual gabah meningkat. Pemerintah juga berperan sebagai pembeli hasil panen, terutama saat panen raya, yang memberi jaminan pasar bagi petani.
Ketika di tanya terkait dengan teknologi modern dan bagaimana edukasi ke masyarakat, Prof Arnawa menyatakan bahwa mekanisasi pertanian dengan bantuan teknologi seperti transplanter dan drone menjadi solusi untuk efisiensi. Namun, keberhasilan proyek agribisnis juga bergantung pada edukasi kepada generasi muda. Utamanya pada mahasiswa pertanian, harus dibekali pengetahuan untuk memulai dari skala kecil dan tidak takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....