Persaingan Makin Merata di Kejurnas Arung Jeram 2026, Jabar-Jatim Berbagi Gelar

  • 30 Sep 2026 09:51 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Badung - Persaingan ketat mewarnai hari terakhir Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Arung Jeram 2026 di Sungai Ayung, Badung, Bali, Senin, 28 September 2026. Pada nomor down river race (DRR) yang menjadi penutup rangkaian perlombaan, tim-tim dari Pulau Jawa masih menunjukkan kekuatannya di sejumlah kategori.

Namun, kejutan muncul pada kelompok U-19 putra ketika tim-tim dari luar Jawa justru mendominasi posisi teratas. Nomor DRR menjadi ujian terakhir bagi para peserta sebelum penentuan juara umum.

Selain mengandalkan kecepatan, setiap tim dituntut mampu membaca karakter arus dan memilih jalur terbaik untuk melewati setiap jeram. Lintasan sepanjang sekitar tiga kilometer tersebut menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Para peserta harus melewati sejumlah jeram besar dan sedang dengan arus yang cukup deras.

Tantangan semakin berat pada jeram terakhir menjelang garis finis yang dipenuhi bebatuan, sehingga upaya melakukan sprint untuk mencapai finis menjadi tidak mudah. Pada kategori U-19 putra, tim Bali A berhasil menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 19 menit 48,914 detik.

Bali A mengungguli Sumatera Selatan yang finis kedua dengan waktu 20 menit 04,945 detik dan Kalimantan Timur di posisi ketiga dengan 20 menit 31,565 detik. Sementara itu, Jawa Timur menunjukkan dominasinya pada kategori U-19 putri.

Mereka mencatat waktu 19 menit 23,009 detik untuk menjadi yang tercepat, disusul Bali A dengan 20 menit 55,825 detik dan Jawa Barat dengan 22 menit 29,039 detik. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan Jawa Timur sebagai juara umum U-19 putri dengan koleksi 380 poin.

Bali A berada di posisi kedua dengan 370 poin, sedangkan Jawa Barat menempati peringkat ketiga dengan 330 poin. NTT yang untuk pertama kalinya tampil pada Kejurnas arung jeram mampu mencatatkan hasil cukup berarti.

Pada DRR U-19 putri, NTT berada di posisi ketujuh. Secara keseluruhan, NTT menempati peringkat keempat klasemen akhir U-19 putri dengan 286 poin, di bawah Jawa Timur, Bali A, dan Jawa Barat.

Di kelompok U-23 putra, Jawa Timur kembali menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 18 menit 42,811 detik. Mereka hanya unggul tipis atas Jawa Tengah yang finis dalam waktu 18 menit 43,236 detik.

Jawa Barat melengkapi tiga besar dengan waktu 19 menit 22,316 detik. NTT berada di posisi keempat dengan catatan waktu 19 menit 33,829 detik.

Hasil tersebut menjadi salah satu catatan positif bagi tim yang baru pertama kali mengikuti Kejurnas, meski pada klasemen akhir U-23 putra NTT berada di peringkat ketujuh. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat juga menjadi tiga besar klasemen akhir U-23 putra.

Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan, Bali, DKI Jakarta, NTT, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Pada kategori U-23 putri, Jawa Barat kembali menunjukkan konsistensinya dengan menjadi juara DRR melalui catatan waktu 19 menit 58,490 detik.

Jawa Timur sebenarnya finis dengan catatan waktu 19 menit 53,202 detik, tetapi harus menerima penalti 10 menit. Bali B berada di posisi ketiga dengan waktu 21 menit 56,607 detik.

Jawa Barat kemudian tampil sebagai juara umum U-23 putri dengan 400 poin. Jawa Timur mengoleksi 350 poin, sedangkan Bali B berada di posisi ketiga dengan 315 poin.

Memasuki kategori senior, Jawa Barat kembali menjadi kekuatan utama. Pada senior putra, mereka mencatat waktu tercepat 18 menit 30,718 detik.

Banten berada di posisi kedua dengan 19 menit 08,660 detik, disusul DKI Jakarta dengan 19 menit 18,962 detik. Hasil tersebut memastikan Jawa Barat keluar sebagai juara umum senior putra dengan 366 poin.

Mereka tampil konsisten dengan menjadi yang terdepan pada nomor sprint, slalom, dan DRR. Pada nomor head-to-head, Jawa Barat memperoleh 66 poin setelah finis di posisi ketujuh.

Jawa Timur menempati posisi kedua klasemen akhir dengan 340 poin, sedangkan Banten berada di urutan ketiga dengan 328 poin. Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta, Bali B, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali A, DI Yogyakarta, dan Jambi.

Di senior putri, Jawa Barat dan Jawa Tengah mengakhiri persaingan dengan koleksi angka yang sama, yakni 380 poin. Jawa Barat menjadi juara pada nomor slalom dan DRR, sementara Jawa Tengah unggul pada sprint dan head-to-head. Jawa Timur berada di posisi ketiga dengan 320 poin.

Jawa Barat juga menjadi yang tercepat pada DRR senior putri dengan waktu 19 menit 37,943 detik. Jawa Tengah menyusul dengan 19 menit 50,694 detik, sedangkan Jawa Timur berada di posisi ketiga dengan 20 menit 26,737 detik.

Sebagai anggota termuda, bagi NTT, hasil yang diraih di Kejurnas 2026 tidak semata-mata diukur dari perolehan medali. Keikutsertaan kali ini menjadi pengalaman awal bagi FAJI NTT untuk mengukur kemampuan atlet sekaligus memetakan kebutuhan pembinaan menuju persiapan menghadapi BK PON dan PON 2028.

Sekretaris Umum FAJI NTT Antonius Adryanto mengatakan, pihaknya memang tidak memasang target khusus karena Kejurnas 2026 merupakan penampilan perdana NTT di ajang tersebut. "Kami memang tidak menargetkan hasil tertentu. Kami hanya berharap tim bisa memberikan yang terbaik untuk NTT, mengingat ini merupakan pengalaman pertama kami mengikuti Kejurnas," kata Antonius.

Setelah Kejurnas, FAJI NTT akan mulai menyusun program pembinaan yang lebih terarah. Program tersebut mencakup pembinaan atlet, peningkatan kapasitas pelatih dan technical official, serta mengikuti berbagai try out, try in, dan kejuaraan lainnya.

Menurut Antonius, pengalaman selama berada di Bali juga menjadi bekal penting karena NTT akan menjadi salah satu daerah yang berkaitan dengan penyelenggaraan PON 2028. "Kami akan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi BK PON maupun PON. Persiapan tersebut akan dilakukan melalui berbagai program, baik pembinaan atlet, peningkatan kapasitas pelatih dan technical official, maupun dengan mengikuti berbagai try out, try in, dan kejuaraan lainnya," tambahnya.

Tidak hanya dari sisi pertandingan, FAJI NTT juga menjadikan penyelenggaraan Kejurnas di Sungai Ayung sebagai bahan pembelajaran. Menurut Antonius, karakteristik wilayah dan potensi NTT memiliki sejumlah kemiripan dengan Bali sehingga pengalaman penyelenggaraan tersebut dapat menjadi referensi.

"Kami patut memberikan apresiasi kepada FAJI Bali yang telah menyelenggarakan Kejurnas ini dengan baik. Dari sisi karakteristik wilayah dan potensi daerah, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di NTT," katanya.

Ia menilai masih banyak hal yang harus dipelajari, terutama berkaitan dengan kemampuan operator dalam menyiapkan pertandingan sekaligus mengembangkan arung jeram dari sisi pariwisata dan olahraga rekreasi.

"Pengalaman ini sangat baik untuk menjadi bahan pembelajaran bagi FAJI NTT dalam mempersiapkan segala sesuatunya agar penyelenggaraan ke depan bisa lebih baik lagi," imbuh Antonius.

Sementara itu, Technical Delegate Kejurnas Arung Jeram 2026 Joni Kurniawan menilai penyelenggaraan secara umum berlangsung sesuai standar yang telah ditetapkan. Panitia Bali dinilai mampu memenuhi kebutuhan pertandingan sehingga seluruh rangkaian lomba dapat berjalan aman dan lancar.

Dari sisi peserta, Kejurnas kali ini juga mencatat jumlah keikutsertaan yang besar. Hampir seluruh provinsi terwakili dan terdapat sekitar 51 tim dengan 14 nomor yang diperlombakan.

Joni melihat kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap persaingan di lintasan. Prestasi tidak lagi terpusat pada satu atau dua daerah, tetapi mulai tersebar ke berbagai wilayah Indonesia.

"Kami melihat persaingan sudah tidak lagi didominasi oleh satu daerah. Prestasi mulai menyebar dan relatif merata secara nasional. Tim-tim dari berbagai wilayah, baik Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, maupun Sumatera, mampu menunjukkan kemampuan dan mengimbangi tim-tim dari Pulau Jawa," tutur Joni.

Pada Kejurnas kali ini, juga mulai diperkenalkan sejumlah nomor yang baru diuji cobakan, termasuk kategori Mix R4 dan Mix R6. Pengenalan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses sosialisasi aturan dan sistem penilaian acuan baru dari United Rafting kepada para atlet.

Jony mengakui peserta masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Hal itu terlihat dari sejumlah penalti dan kesalahan yang terjadi ketika nomor baru tersebut dipertandingkan.

"Memang melalui nomor-nomor baru ini kami ingin menyosialisasikan bagaimana peraturan perlombaannya, bagaimana sistem penilaiannya, termasuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari dan memahami aturan tersebut," ucapnya.

Menurut dia, nomor-nomor tersebut nantinya diharapkan dapat dipertandingkan secara resmi sehingga atlet Indonesia memiliki pengalaman yang cukup ketika mengikutinya pada kompetisi yang lebih tinggi. "Di tingkat internasional, nomor-nomor tersebut juga sudah menjadi bagian dari perlombaan resmi. Karena itu, kami berharap atlet-atlet Indonesia bisa mulai terbiasa, memahami aturan perlombaan, dan mampu menjalankannya dengan baik," kata Jony.

Dengan berakhirnya nomor DRR, rangkaian Kejurnas Arung Jeram 2026 sekaligus memberikan gambaran mengenai kekuatan sejumlah daerah. Jawa Barat tampil kuat di kelompok senior dan U-23, sementara Jawa Timur menunjukkan konsistensi di kelompok U-19 serta U-23 putra. Di sisi lain, kemunculan sejumlah daerah di luar Pulau Jawa, termasuk NTT, menjadi bagian dari perkembangan persaingan yang semakin luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....