Masa Depan Kesehatan Indonesia Ditentukan Kekuatan Masyarakat

  • 31 Jul 2026 15:10 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Masa depan pembangunan kesehatan Indonesia tidak lagi dapat bertumpu pada pelayanan kuratif semata. Tantangan kesehatan menuju Indonesia Emas 2045 hanya dapat dijawab melalui penguatan upaya promotif dan preventif yang didukung oleh sumber daya manusia kesehatan masyarakat yang mampu melahirkan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Hal itu dikatakan Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono saat menjadi keynote speaker pada Dies Natalis ke-61 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia di Depok mengusung tema "FKM Bertumbuh: Sehat Utuh dan Masyarakat Tangguh." dikutip dari kemenkes.go.id.

Menurut Prof. Dante, berbagai tantangan kesehatan di masa depan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor di luar layanan kesehatan. "Kalau kita petakan masalah kesehatan menuju tahun 2045, layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Selebihnya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, penyelesaian masalah kesehatan masyarakat membutuhkan pemimpin, peneliti, dan penyusun kebijakan dari bidang kesehatan masyarakat," ujar Prof. Dante.

Prof. Dante menjelaskan, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan besar, mulai dari tingginya angka perokok usia muda, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja, kemiskinan, stunting, hingga urbanisasi dan perubahan iklim. "Masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengobatan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi lintas sektor dan policy brief yang kuat sebagai dasar pengambilan keputusan," katanya.

Prof. Dante menambahkan, institusi pendidikan kesehatan masyarakat memiliki tiga peran strategis dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional. Pertama, mencetak lulusan yang memiliki kemampuan kepemimpinan, analisis data, dan kemampuan mengeksekusi solusi kesehatan di lapangan.

"Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan," ujarnya.

Kedua, menjadi mitra pemerintah dalam mendukung pelaksanaan transformasi kesehatan dan berbagai program prioritas nasional melalui rekomendasi kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan. Ketiga, memperkuat kolaborasi internasional guna mendorong lahirnya kebijakan kesehatan global yang berpihak pada kepentingan Indonesia sekaligus membuka peluang pendanaan dan kerja sama riset.

Prof. Dante juga menyoroti pentingnya kontribusi lulusan kesehatan masyarakat dalam berbagai organisasi kesehatan dunia. "Banyak tokoh dunia yang berlatar belakang kesehatan masyarakat memimpin organisasi internasional seperti WHO, GAVI, UNICEF, World Bank, maupun Global Fund. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat lahir dari kebijakan yang tepat," kata Prof. Dante.

Prof. Dante juga mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat, mendorong alumni untuk terus berkarya bagi bangsa, serta mengajak perguruan tinggi melahirkan pemimpin kesehatan masyarakat yang mampu memberikan dampak di tingkat nasional maupun global. "Bagi Alfred Sommer, public health adalah saving lives, millions at a time. Itulah esensi kesehatan masyarakat: menyelamatkan jutaan nyawa melalui kebijakan dan pencegahan," tuturnya.

Sementara itu, Dekan FKM Universitas Indonesia, Prof. Indri Hapsari Susilowati, mengatakan tema Dies Natalis tahun ini menegaskan bahwa kesehatan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penyakit, tetapi sebagai kondisi yang utuh sehingga mampu membentuk masyarakat yang tangguh, adaptif, dan resilien menghadapi berbagai tantangan. Di usia ke-61, FKM UI berkomitmen memperkuat posisinya sebagai fakultas kesehatan masyarakat terdepan melalui penguatan pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola yang berintegritas.

"Usia ke-61 menjadi momentum bagi FKM UI untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kesehatan Indonesia maupun dunia," ujar Prof. Indri.

Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah menyampaikan FKM UI telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan kesehatan nasional melalui kontribusi alumninya di berbagai daerah, dunia industri, hingga penyusunan kebijakan publik. Ia berharap FKM UI terus memperkuat kepemimpinan di bidang kesehatan masyarakat dan menghasilkan inovasi serta rekomendasi kebijakan yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun global.

"FKM UI memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kepemimpinan public health Indonesia, bahkan dunia, melalui riset, inovasi, dan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Prof. Heri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....