Menjaga Eksistensi Jaje Satuh, Kuliner Tradisional Kebanggaan Bali
- 15 Jun 2026 14:57 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah maraknya produksi pastry modern dan camilan kekinian yang menjamur di Bali, sebuah kue tradisional bertekstur unik tetap kokoh mempertahankan tempatnya. Jaje Satuh.
Bagi masyarakat luar Bali, nama kue ini mungkin terdengar asing. Namun bagi krama Bali, jaje satuh adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari teman minum kopi di pagi hari hingga menjadi komponen penting dalam ritual keagamaan.
Secara harfiah dalam bahasa Bali, kata satuh atau masatuh merujuk pada proses pengolahan bahan yang dipanggang atau disangrai tanpa minyak hingga kering. Penamaan ini sangat akurat menggambarkan metode pembuatan kue tradisional tersebut.
Secara filosofis, kehadiran jaje satuh dalam sarana upacara (banten) melambangkan kesucian pikiran dan ketulusan hati yang matang, senada dengan proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran.
Daya tarik utama jaje satuh terletak pada kesederhanaan bahan bakunya, namun menghasilkan cita rasa yang sangat khas. Kue ini umumnya dibuat dari dua bahan utama:
Tepung Beras atau Tepung Ketan: Yang disangrai terlebih dahulu hingga matang dan harum.
Gula Bali (Gula Merah) atau Gula Pasir: Yang dicairkan dan dicampur ke dalam tepung.
Proses Pembuatan yang Unik: Campuran tepung dan gula tersebut tidak diberi air banyak-banyak, melainkan dibiarkan agak mawur (sedikit kering dan bergumpal). Adonan ini kemudian dipadatkan dengan cara ditumbuk atau ditekan kuat-kuat ke dalam cetakan kayu tradisional yang bermotif indah, seperti bunga atau ukiran khas Bali. Setelah dicetak, kue dipanggang atau dijemur hingga benar-benar kering dan keras.
Saat digigit, jaje satuh memberikan sensasi yang unik: renyah dan padat di luar, namun langsung lumer dan hancur di dalam mulut melepaskan rasa manis legendaris yang bikin ketagihan.
Jaje satuh memiliki kedudukan yang penting dalam tradisi Hindu di Bali. Kue ini hampir selalu hadir dalam barisan jaje banten (kue untuk sesajen) saat hari raya besar seperti Galungan, Kuningan, maupun upacara Manusa Yadnya (pernikahan atau potong gigi). Karena sifatnya yang kering dan tahan lama hingga berbulan-bulan tanpa pengawet, kue ini menjadi pilihan utama untuk pajangan sesajen yang tinggi (banten saraswati atau gebogan).
Namun, jaje satuh kini tidak lagi sekadar urusan ritual. Kreativitas para pelaku UMKM di Bali telah membawa kue tradisional ini naik kelas. Kini, jaje satuh dengan kemasan modern yang higienis sangat mudah ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh khas Bali.
Meskipun pembuat jaje satuh tradisional yang menggunakan cetakan kayu semakin langka, permintaan akan kue ini tidak pernah surut. Jaje satuh membuktikan bahwa kuliner tradisional yang diolah dengan cara bersahaja mampu bertahan melintasi generasi.
Jika Anda berkunjung ke Bali, jangan hanya berburu pie susu. Cobalah mampir ke pasar tradisional seperti Pasar Sukawati atau pusat oleh-oleh terdekat, dan rasakan sendiri kelezatan autentik Jaje Satuh, sepotong warisan rasa yang renyah dan penuh cerita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....