Jaje Iwel Kuliner Legendaris Bali yang Mulai Langka

  • 02 Jun 2026 21:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dibalik ramainya jajanan modern di Bali, masih ada satu kue tradisional yang diam–diam nyaris terlupakan. Kue ketan dan berisi gula merah, pada jaman dulu selalu hadir disetiap upacara adat dan pasar tradisional. Rasanya manis legit, teksturnya kenyal, dan aromanya khas . Tapi sekarang semakin susah menemukan penjual jaje ( kue ) iwel di sudut–sudut pasar Bali. Banyak generasi muda yang bahkan belum pernah mencobanya padahal jaje iwel adalah dari warisan kuliner yang sudah hidup ratusan tahun di Pulau Dewata.

Asal usul jaje iwel tidak bisa lepas dari tradisi yadnya masyarakat Bali. Sejak dulu,kue ini dibuat dari campuran tepung ketan putih dan ketan hitam yang ditumbuk halus, lalu diisi gula merah asli Bali. Warna hitam kecoklatan yang keluar setelah dikukus itu bukan pewarna, tapi hasil alami dari ketan hitam makanya orang tua dulu bilang jaje iwel itu “manis tapi tidak norak “. Dalam upacara jaje iwel sering bagian dari banten ( sesajen ) ini adalah simbol agar hidup keluarga tetap rukun, lengket dan manis seperti gulanya. Proses ngukusnya juga perlu proses kesabaran, kadang sampai 2 jam, memakai kayu bakar agar aromanya makin ngebul dan khas. Dari sanalah muncul rasa legendaris yang susah diganti dengan kue modern.

Tapi sayang,sekarang jaje iwel pelan–pelan mulai ditelan zaman. Anak muda Bali lebih kenal kue kekinian yang tampilannya lebih instagrammable. Proses membuat kue iwel yang ribet dan butuh waktu lama juga membuat banyak penjual tradisional malas produksi lagi. Belum lagi bahan seperti ketan hitam dan lainnya yang harganya naik, sementara harga jualnya tidak bisa mahal karena dianggap jajanan pasar biasa. Akhirnya jaje iwel hanya bisa ditemui saat ada upacara besar, dipasar tradisional tertentu atau di rumah–rumah tua yang masih melestarikan resep warisan leluhur.

Jaje iwel memang ada di beberapa daerah , namun jaje iwel resep tradisonal Bali agak berbeda. Seperti yang dilakukan Ketut Yuliasih tinggal di Jimbaran, membuat jaje iwel saat upacara saja, karena memang proses yang agak rumit. Menurutnya jaje iwel khas Bali dibuat dari campuran tepung ketan putih dan hitam. Makanya warnanya jadi hitam dan aromanya khas. Resep yang dipakai perbandingan 1.1, misalnya 1000 gram tepung ketan putih dan 1000 gram ketan hitam. Lalu kenapa pakai ketan hitam? Karena ketan hitam kasih warna gelap alami, rasa yang lebih dalam, dan tektur yang lebih legit. Tentu buat jaje iwel bali beda dengan versi daerah lain.

Jaje iwel Bali adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa meninggalkan kesan yang dalam. Dibuat dari bahan lokal seprti ketan hitam , ketan putih dan gula merah kue ini mencerminkan kearifan masyarakat Bali dalam mengolah alam menjadi hidangan yang lezat sekaligus sarat makna. Rasanya yang kenyal manis selalu mengingatkan pada suasana pasar tradisional dan suasana gotong royong saat persiapan upacara. Selama jaje iwel masih dibuat dan dinikmati, selama itu pula cita rasa dan nilai budaya Bali tetap hidup ditengah generasi muda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....