Jaje Batun Bedil, Camilan Masa Kecil yang Bikin Rindu

  • 02 Jun 2026 21:33 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan selain dengan satu gigitan jaje ( Kue) Batun bedil. Kue tradisional Bali berbentuk panjang ramping atau bulat sesuaikan dengan selera sering muncul di ingatan banyak orang setiap kali teringat suasana pagi di pasar desa, aroma asap dupa dari pura, atau sore hari saat nenek mengeluarkan wadah anyaman berisi jajanan. Teksturnya yang kenyal dari ketan, dipadu manis legit gula merah dan gurihnya parutan kepala, langsung membawa pikiran balik ke masa kecil di Bali. Bukan Cuma soal rasa,jaje batun bedil seperti jembatan kecil yang menghubungkan kita sedang berada di rumah,meski sekarang jarak sudah ratusan kilometer.

Nama batun bedil sendiri diambil dari bentuknya yang mirip peluru senapan tua zaman dulu. Dalam bahasa bali batun berarti peluru dan bedil berarti senapan. Dulu para ibu di Bali membuat jajanan ini dengan cara menggulung adonan ketan yang sudah dicampur gula merah, lalu membalurkannya dengan kelapa parut muda. Prosesnya sederhana, tapi butuh ketelatenan supaya bentuknya rapih dan tidak mudah hancur. Jaman dulu jaje ( kue ) ini sering disajikan saat ada upacara adat atau sekedar jadi bekal anak- anak ke sekolah.

Namun sayangnya jaje batun bedil ini sekarang sudah jarang ditemui dipasar modern. Banyak generasi muda Bali sendiri yang belum yang belum pernah mencicipinya, karena jajanan ini perlahan tergeser oleh camilan kekinian yang lebih praktis. Biasanya jaje batun bedil ini hanya ditemukan di pasar tradisional pagi hari, dibeberapa desa saat ada upcara adat atau agama serta dibikin sendiri oleh ibu – ibu yang masih menjaga resep warisan. Justru karena jarangnya ditemui setiap gigitan jaje batun bedil terasa lebih berharga. Ini bukan sekedar jajanan , tetapi pengingat bahwa ada rasa dan cerita yang layak untuk terus dijaga agar tidak hilang dimakan zaman.

Ada resep sederhana membuat Jaje Batun Bedil yang dilakukan Seorang Ibu Rumah Tangga yang bernama Ketut Desy asal Singaraja ketika membuat jaje batun bedil untuk keluarganya yaitu :140 gram tepung ketan,80 grama tepung kanji, 150 ml air hangat, ½ sdm garam, 1 liter air untuk merebus, 500 ml air, 250 ml santan, 200 gram gula aren , 2 lembar daun pandan,1 sendok makan tepung kanji ( larutkan dalam sedikit air ),5 sdm kelapa parut (kukus ). Cara membuatnya :

  1. Campurkan tepung ketan,tepung kanji dan garam dalam mangkuk aduk hingga rata dan adonan dapat dibentuk sesuai selera.

  2. Didihkan air dalam panci,masukkan adonan yang sudah dibentuk masukkan adonan masak hingga air mendidih kembali dan adonan mengapung tiriskan.

  3. Rebus 500 ml santan, gula aren , daun pandan dan garam kemudian tambahkan larutan tepung kanji aduk terus hingga mengental,masukkan adonan yang telah matang kedalamnya didihkan dan angkat.

  4. Sajikan dalam mangkuk saji,taburkan kelapa parut diatasnya.

Pada akhirnya, jaje batun bedil mengingatkan kita bahwa kerinduan pada Bali tidak selalu harus diwujudkan dengan pulang kepulau Dewata. Kadang cukup dengan sepotong kue ketan berbalut kelapa, kenangan tentang masa kecil , tawa keluarga dan hangatnya dapur nenek bisa kembali hidup. Jika kita berkunjung ke pasar tradisional atau sudut kampung yang ada warung kecil penjual jaje khususnya jaje batun bedil jangan ragu untuk membeli dan mencobanya. Karena menjaga rasa tradisional seperti ini berarti kita juga menjaga cerita Bali agar tetap hidup untuk generasi selanjutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....