Menguak Alasan Orang Tetap Suka Pedas meski Bikin “Tersiksa”
- 17 Apr 2026 08:21 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Sensasi panas, perih, bahkan sampai berkeringat sering dirasakan saat makan pedas. Namun anehnya, banyak orang justru menikmati bahkan hingga ketagihan dengan rasa tersebut.
Fenomena ini bukan sekadar soal selera, tetapi berkaitan erat dengan cara kerja otak dan sistem saraf manusia. Menurut Business Standard, rasa pedas sebenarnya bukanlah rasa, melainkan sensasi nyeri.
Senyawa capsaicin dalam cabai mengaktifkan reseptor panas di mulut yang biasanya mendeteksi suhu tinggi atau luka. Akibatnya, otak mengira kita sedang mengalami “terbakar”, meskipun sebenarnya tidak ada kerusakan fisik.
Ketika tubuh merasakan sensasi pedas sebagai ancaman, otak merespons dengan melepaskan endorfin dan dopamin. Kedua zat ini dikenal sebagai “hormon kebahagiaan” yang membantu meredakan rasa sakit dan memberikan sensasi senang.
Inilah alasan mengapa setelah rasa pedas, muncul perasaan puas atau bahkan euphoria. Fenomena menikmati sesuatu yang sebenarnya menyakitkan dikenal sebagai pain-pleasure paradox.
Dalam konteks makanan pedas, rasa sakit yang aman dan terkendali justru memberikan sensasi menyenangkan. Otak belajar bahwa sensasi tersebut tidak berbahaya, sehingga lama-kelamaan justru dicari kembali sebagai pengalaman yang “seru”.
Bagi Sebagian orang, makan pedas menjadi semacam tantangan atau uji nyali. Saat berhasil menahan rasa pedas, otak memberikan rasa puas seperti mencapai sesuatu.
Sensasi ini mirip dengan pengalaman menonton film horror atau menaiki wahana ekstrem, menegangkan tapi menyenangkan. Semakin sering seseorang mengonsumsi makanan pedas, reseptor di lidah akan menjadi kurang sensitif terhadap capsaicin.
Akibatnya, orang tersebut membutuhkan tingkat kepedasan yang lebih tinggi untuk mendapatkan sensasi yang sama. Inilah yang membuat banyak orang merasa “kurang puas” jika makanannya tidak pedas.
Selain faktor biologis, kebiasaan dan budaya juga berperan besar. Banyak negara yang identik dengan makanan pedas.
Paparan sejak kecil membuat seseorang lebih terbiasa dan akhirnya menyukai rasa pedas dibandingkan orang yang jarang mengonsumsinya. Rasa pedas yang terasa menyakitkan ternyata justru memicu berbagai reaksi positif dalam tubuh.
Kombinasi antara faktor biologis, psikologis, dan budaya inilah yang membuat makanan pedas tetap digemari, bahkan terasa “nagih” bagi banyak orang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....