Studi NUS Soroti Aktivitas Fisik Mahasiswa

  • 30 Sep 2026 07:30 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Studi yang dilakukan National University of Singapore (NUS) menunjukkan adanya perbedaan pola aktivitas fisik dan waktu sedentari antara mahasiswa, orang dewasa usia kerja, dan lansia. Penelitian tersebut menganalisis data penggunaan perangkat pemantau aktivitas selama empat minggu dari 1.967 orang di Singapura.

Penelitian berjudul Physical activity in university students compared to working age and older adults: wearable-based evidence and cardiometabolic health implications melibatkan tiga kelompok, yakni mahasiswa dengan usia rata-rata sekitar 20 tahun, orang dewasa usia kerja sekitar 41 tahun, serta lansia yang tinggal di komunitas dengan usia rata-rata sekitar 74 tahun. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal BMC Medicine pada September 2026.

Berdasarkan data tersebut, mahasiswa tercatat melakukan aktivitas fisik rata-rata selama 320 menit per hari. Angka itu berada di bawah kelompok usia kerja yang mencapai 347 menit dan kelompok lansia yang mencapai 420 menit per hari.

Perbedaan juga terlihat pada waktu yang digunakan untuk aktivitas sedentari atau aktivitas dengan gerakan tubuh yang sangat minim. Mahasiswa tercatat menghabiskan sekitar 634 menit atau lebih dari 10,5 jam per hari dalam kondisi sedentari, sementara kelompok usia kerja mencapai 581 menit dan lansia 501 menit.

Pola aktivitas mahasiswa juga berbeda antara hari kerja dan akhir pekan. Peneliti mencatat aktivitas mahasiswa pada hari kerja banyak muncul saat berpindah antarkelas, sedangkan durasi aktivitas tersebut turun sekitar 30 menit pada akhir pekan.

Dari sisi tidur, mahasiswa mengalokasikan rata-rata 432 menit per hari untuk tidur, dibandingkan 446 menit pada kelompok usia kerja dan 456 menit pada kelompok lansia. Namun, peneliti mencatat lansia memiliki durasi tidur aktual yang lebih pendek karena tidur mereka cenderung lebih terfragmentasi.

Penelitian tersebut juga menganalisis keterkaitan antara pembagian waktu dalam sehari, termasuk aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan tidur, dengan sejumlah indikator kesehatan kardiometabolik. Pada kelompok usia kerja dan lansia, pengalokasian kembali 30 menit waktu sedentari menjadi aktivitas fisik dikaitkan dengan perbaikan pada beberapa indikator obesitas dan kekakuan arteri, termasuk ketika aktivitas yang dilakukan hanya berupa gerakan ringan seperti berjalan.

Peneliti NUS menyebut pola aktivitas tersebut dapat berkaitan dengan rutinitas akademik, penggunaan teknologi digital, serta kemudahan layanan seperti pesan-antar makanan dan transportasi daring. Temuan ini menggambarkan pola aktivitas pada kelompok yang diteliti di Singapura dan tidak secara langsung mewakili seluruh mahasiswa atau kelompok usia muda di negara lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....