Tak Selalu Terlihat, Cedera Olahraga Bisa Mengintai akibat Latihan Berlebihan

  • 02 Sep 2026 08:22 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, DENPASAR — Olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan tanpa memperhatikan kemampuan tubuh justru dapat meningkatkan risiko cedera.

Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Prima Medika, dr. I Putu Sandhy Kumara, M.Kes, Sp.OT, dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Denpasar mengingatkan bahwa cedera olahraga tidak selalu langsung terlihat. Sebagian cedera dapat menimbulkan keluhan yang jelas, sementara sebagian lainnya berkembang secara perlahan tanpa disadari pelakunya.

Menurutnya, cedera yang terlihat biasanya berkaitan dengan bagian tubuh yang paling banyak digunakan saat berolahraga. Pada olahraga yang banyak melibatkan bahu atau lengan, misalnya, cedera dapat terjadi pada area tersebut. Sementara pada olahraga yang banyak menggunakan kaki, cedera dapat terjadi pada lutut, tungkai, ligamen, hingga tendon.

Beberapa contoh cedera yang dapat terlihat secara klinis antara lain robekan ligamen ACL, robekan ligamen pada kaki, hingga cedera atau putusnya tendon Achilles. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah cedera atau kerusakan yang tidak langsung menunjukkan gejala.

Pada pembahasan topik Sport Injury 101 : Kenali, Cegah, Atasi, Dokter Sandhy menjelaskan, pada dasarnya tidak ada jenis olahraga yang sepenuhnya harus dianggap buruk. Angkat beban, lari, bersepeda, maupun jenis olahraga lainnya tetap memiliki manfaat selama dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan tubuh.

Persoalan justru sering muncul ketika olahraga dilakukan secara berlebihan dan tidak terukur. Ada berbagai alasan yang membuat seseorang memaksakan diri. Salah satunya adalah ego atau keinginan untuk mengikuti kemampuan orang lain.

Selain itu, ada pula orang yang merasa harus berolahraga sesering mungkin karena sudah membayar keanggotaan gym.

“Kayak rugi kalau olahraganya cuma seminggu tiga kali. Harusnya tiap hari supaya tidak rugi,” ujarnya.

Tubuh manusia memiliki batas kemampuan. Memaksakan tubuh berolahraga terus-menerus tanpa memberikan waktu pemulihan dapat meningkatkan risiko kelelahan dan berbagai gangguan fisik.

Dalam penjelasannya, Ia menyinggung peningkatan radikal bebas atau stres oksidatif yang dapat terjadi ketika tubuh mendapatkan beban fisik yang berat. Jika tidak diimbangi dengan pemulihan yang memadai, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap proses kerusakan sel dan jaringan.

Dampaknya bisa berkembang secara perlahan. Seseorang mungkin tetap merasa sehat secara fisik dan mental, sementara berbagai perubahan pada tubuh berlangsung tanpa disadari.

Keluhan baru muncul ketika seseorang memasuki usia tertentu, misalnya mengalami masalah pada persendian atau tulang rawan yang kemudian mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, rasa bugar tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran bahwa tubuh berada dalam kondisi baik.

Dokter Sandhy pada Sabtu 29 Agustus 2026 menerangkan cedera yang terlihat biasanya lebih mudah mendapatkan penanganan karena gejalanya jelas. Ketika terjadi benturan, pembengkakan, nyeri hebat, atau gangguan gerak, seseorang cenderung segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Jika muncul nyeri yang terus berulang, penurunan kemampuan berolahraga, rasa lelah yang tidak biasa, atau keluhan lain setelah latihan, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus selalu ditahan. Evaluasi kondisi tubuh dapat membantu menentukan apakah latihan perlu dikurangi, dimodifikasi, atau dihentikan sementara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....