Bali Memiliki Pendekatan Unik dalam Mendampingi Pemulihan Gangguan Jiwa

  • 07 Agt 2026 21:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Pemulihan kesehatan mental tidak hanya sebatas pengobatan medis dan terapi medis kognitif. Di Bali, proses pemulihan jiwa memiliki dimensi holistik yang sangat unik, di mana kearifan lokal, tradisi, dan nilai sosial kemasyarakatan berpadu membentuk ruang penanganan medis sekaligus rehabilitasi budaya bagi penderita gangguan jiwa.

Pendekatan khas masyarakat Bali dalam mendampingi penderita gangguan jiwa ini menjadi perbincangan hangat dalam acara Rahajeng Bali, pada Kamis, 6 Agustus 2026, menghadirkan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS bersama dr. Herman Yosef dari RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

Dalam pandangan masyarakat Bali, keberadaan manusia dipengaruhi oleh dua aspek kehidupan, yakni skala (dunia nyata/fisik) dan niskala (dunia abstrak/spiritual). Hal inilah yang membuat pendekatan penanganan jiwa di Bali kerap kali beririsan dengan kebiasaan dan kepercayaan lokal.

Prof. Cok Bagus menjelaskan bahwa dalam perjalanan medis, hampir 70 persen pasien gangguan jiwa di Bali awalnya mencari bantuan ke pengobat tradisional (Balian) sebelum akhirnya ditangani oleh psikiater.

"Secara rasio dan kedekatan, pengobat tradisional di Bali jumlahnya lebih dari 4.000, sementara psikiater hanya sekitar 70-an untuk melayani 4,5 juta jiwa. Masyarakat meyakini seseorang itu terganggu tidak hanya dari aspek medis (skala), tetapi juga ada faktor niskala. Budaya ini memberi ruang awal bagi masyarakat untuk beradaptasi," ujarnya.

Hal yang paling membedakan Bali dengan wilayah lain adalah bagaimana sistem budaya Bali menyediakan ruang rehabilitasi sosial yang inklusif. Di saat masyarakat luas kerap memarjinalkan penderita gangguan jiwa dengan label negatif, budaya Bali justru membuka peluang untuk pemulihan status sosial mereka.

Melalui prosesi adat, keterlibatan dalam upacara keagamaan, hingga tradisi ngiring atau menjadi pemangku (pemimpin ritual), penderita yang sedang dalam masa pemulihan diberikan tanggung jawab dan posisi yang terhormat di masyarakat.

"Secara budaya, kita memberikan ruang lewat upacara, peran sebagai pengobat, atau ngiring menjadi pemangku. Posisinya otomatis naik. Yang tadinya dianggap tidak mampu, ketika dipercaya menjalani peran tersebut, statusnya berubah di masyarakat sebagai 'orang pilihan'. Ini sangat membantu proses pemulihan dan rehabilitasi jiwa," jelas Prof. Cok Bagus.

Meski ruang budaya memberi dukungan emosional dan sosial yang kuat, narasumber RRI tetap menekankan bahwa pendekatan medis mutlak diperlukan. dr. Herman Yosef memaparkan bahwa gangguan jiwa pada dasarnya memiliki landasan biologis akibat perubahan kimiawi di otak yang membutuhkan penanganan medis teratur.

Pemulihan yang ideal bagi masyarakat Bali adalah bentuk kolaborasi yang harmonis antara tiga pilar utama:

  1. Sisi Biologis (Medis): Pemberian obat-obatan secara rutin untuk menstabilkan kondisi fisik dan struktur kimia otak.
  2. Sisi Psikologis: Psikoterapi dan konseling untuk mengurai beban stres serta membangun ketahanan emosional (resilience).
  3. Sisi Sosial-Budaya: Pengembalian fungsi okupasi/pekerjaan dan penerimaan lingkungan adat tempat pasien kembali berinteraksi.

Dengan memadukan kemajuan ilmu psikiatri modern dan kehangatan kearifan lokal Bali, penyembuhan gangguan jiwa bukan lagi hal yang mustahil. Penderita tidak hanya disembuhkan dari gejala klinisnya, tetapi juga dipulihkan harkat, martabat, dan fungsinya sebagai manusia seutuhnya di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....