Hati-Hati! Self Reward Minuman Manis berujung Diabetes
- 02 Jul 2026 14:57 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Bagi generasi muda yang aktif dan enerjik, akumulasi gula sering kali tidak disadari karena sifatnya yang terselubung. Gula tidak hanya datang dari sendok teh yang dimasukkan ke dalam cangkir, melainkan dari hampir seluruh asupan makanan yang nantinya akan dipecah oleh sistem metabolisme menjadi glukosa.
Siklus konsumsi harian usia produktif saat ini kerap dipenuhi oleh asupan karbohidrat berat, yang kemudian ditumpuk dengan camilan, es kopi susu, serta minuman kekinian lainnya. Tanpa perhitungan cermat, akumulasi ini dengan mudah melampaui batas maksimal konsumsi gula harian yang mampu ditoleransi oleh tubuh.
Gula yang berlebih dan tidak dibakar menjadi energi inilah yang akhirnya mengendap, merusak kinerja insulin, dan memicu diabetes. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Luh Putu Dea Sasmita Pralambari, SpPD, mengungkapkan bahwa menghitung asupan harian secara detail sebenarnya sangat berharga (worth it) untuk investasi kesehatan jangka panjang.
| Baca juga: Cara Mudah Tetap Semangat Berolahraga |
Langkah idealnya dimulai dengan mengetahui total kebutuhan kalori harian individu, yang kemudian dibagi ke dalam porsi protein, karbohidrat, dan lemak. Namun, bagi masyarakat usia produktif dengan mobilitas tinggi yang lebih sering membeli makanan di luar ketimbang memasak sendiri, menghitung gramasi gula tentu terasa rumit.
Cara termudahnya dapat melihat komponen-komponen yang ada pada makanan. dr. Dea menyarankan masyarakat agar lebih teliti dalam memahami peran karbohidrat dalam tubuh, karena ia adalah penyumbang glukosa terbesar setelah dipecah oleh tubuh.
“Misal pagi kita sarapan roti, sudah karbohidrat, terus siang kita makan nasi lagi.Terus pulang dari kerja, saya mau kasih reward nih untuk diri sendiri, kita beli deh minuman kemasan atau minuman kekinian yang banyak lagi populer itu kan tidak masuk akal. Itu kita bisa sudah pikirkan bahwa sudah berapa banyak gula yang kita masukkan?.”lanjutnya
Selain itu, jika anda merasa berat badan atau kondisi tubuh mulai tidak nyaman, itu menjadi indikator sederhana bahwa asupan makanan harian sudah melebihi batas total kalori yang mampu dibakar oleh tubuh. Fenomena lain adalah kandungan gula pada buah-buahan.
Tidak sedikit masyarakat yang mengira bahwa mengonsumsi buah dalam jumlah besar pasti aman untuk penderita diabetes atau mereka yang sedang berdiet. Faktanya, beberapa jenis buah tertentu memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi, seperti mangga, alpukat, dan pisang, karena mengandung karbohidrat, proses pemecahan menjadi gulanya pun otomatis lebih banyak dan cepat.
"Kita harus mulai cermat mengenali kandungan ini. Prinsipnya adalah pilihan. jika memilih makan buah yang tinggi karbohidrat, maka porsi nasi atau roti pada hari itu harus dikurangi. Harus ada kesadaran penuh terhadap apa yang kita masukkan ke dalam tubuh," tegas dr. Dea.
| Baca juga: Loloh Don Piduh Jamu Tradisional Khas Bali |
Terkait bergesernya tren diabetes ke rentang usia 25 hingga 30 tahun, muncul sebuah anomali menarik. Apakah lonjakan data ini murni karena ledakan kasus baru, atau karena faktor lain?
Dokter Dea meluruskan bahwa tingginya angka tersebut juga linear dengan meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mereka. Masifnya edukasi mengenai risiko diabetes dan faktor genetik di media sosial mendorong kelompok usia produktif untuk lebih proaktif.
Kini, banyak anak muda yang secara sukarela melakukan pemeriksaan mandiri, mulai dari medical check-up rutin, mendatangi posyandu, hingga memanfaatkan layanan cek kesehatan di puskesmas terdekat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....