Radio Jaga Kesehatan Otak Masyarakat
- 19 Jun 2026 14:10 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah masifnya paparan gawai dan media sosial berbasis video pendek yang menyita waktu luang, radio tetap tegak berdiri menjadi bagian dari urat nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Kita sangat terbiasa melihat seorang ibu rumah tangga memasak ditemani musik radio, pekerja komuter membelah kemacetan kota bersama suara penyiar, hingga pedagang pasar tradisional yang memperbarui informasi lewat siaran berita pagi.
Menariknya, kebiasaan masyarakat yang gemar mendengarkan radio di sela-sela aktivitas produktif ini ternyata memiliki landasan medis yang kuat. Berbagai data dari kementerian, dinas kesehatan, hingga ikatan profesi dokter di dalam negeri membuktikan bahwa media audio murni ini adalah instrumen kesehatan kognitif yang sangat efektif.
Manfaat mendengarkan radio secara medis diakui dalam program pelayanan kesehatan ramah lansia yang dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama berbagai Dinas Kesehatan (Dinkes) di tingkat daerah. Dalam instrumen skrining dan intervensi kesehatan jiwa lansia, aktivitas mendengarkan siaran radio secara aktif dimasukkan ke dalam daftar "Stimulasi Kognitif Harian" resmi, bersanding dengan membaca buku dan mengisi teka-teki silang.
Secara medis, siaran radio terutama program berita, sandiwara audio, dan dialog interaktif memaksa otak manusia untuk mengaktifkan kapasitas imajinasi kognitif secara mandiri. Karena tidak ada visual konkret yang disajikan, jaringan saraf otak pendengar dipicu untuk aktif memvisualisasikan informasi, latar tempat, dan penokohan di dalam pikiran mereka.
Latihan berkala ini terbukti menjaga neuroplastisitas (kemampuan otak untuk beradaptasi dan berkembang) serta memperlambat laju atrofi otak yang memicu demensia (pikun) pada lansia. Ditinjau dari kesehatan fisik dan mata pekerja produktif, organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui berbagai edukasi publik mengenai kesehatan kerja sering kali mengingatkan bahaya Computer Vision Syndrome (CVS) atau screen fatigue (kelelahan mata akibat layar gawai).
Paparan radiasi cahaya biru (blue light) dari ponsel dalam durasi panjang terbukti memicu ketegangan saraf kognitif, sakit kepala kronis, hingga gangguan siklus tidur (insomnia). Dalam konteks ini, mendengarkan radio menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan hiburan yang jauh lebih sehat bagi tubuh.
Sifat radio yang berbasis audio murni mengistirahatkan otot-otot mata secara total tanpa memutus asupan informasi atau hiburan yang dibutuhkan pekerja. Otak dapat memproses stimulus suara secara rileks, sehingga membantu menurunkan produksi hormon kortisol (stres) setelah seharian berhadapan dengan monitor kerja.
Tidak hanya dari sisi medis klinis, manfaat radio dari aspek keselamatan transportasi diakui secara resmi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI melalui panduan keselamatan berkendara di jalan raya. Kemenhub mengategorikan radio sebagai bentuk hiburan kabin yang aman dan direkomendasikan bagi pengemudi, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
Secara psikologis, mendengarkan radio yang menyajikan kombinasi musik dan suara manusia asli secara langsung (live interaction) bertindak sebagai stimulan mental yang menjaga kesadaran pengendara. Efek ini secara signifikan mampu mengusir rasa jenuh dan mencegah fenomena hypnotic driving kondisi di mana pengemudi kehilangan kesadaran situasi akibat jalur jalan yang monoton tanpa merusak konsentrasi visual mata pengemudi pada marka jalan.
Mendengarkan radio pada akhirnya bukan sekadar melestarikan hobi konvensional yang merakyat. Dari meja dapur, ruang kerja, hingga kemacetan jalan raya, berbagai data institusi kredibel di Indonesia membuktikan bahwa beralih sejenak ke media audio adalah pilihan gaya hidup sehat yang menjaga ketajaman berpikir, merawat kesehatan fisik, dan meredam stres harian di tengah bisingnya era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....