Kedewasaan Emosi yang Tidak Semua Orang Pelajari sejak Kecil
- 28 Mei 2026 12:51 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Emosi adalah respons alami yang dimiliki setiap manusia ketika menghadapi situasi tertentu. Emosi bukan hanya tentang marah, tetapi juga mencakup rasa sedih, takut, kecewa, bahagia, cemas, malu, hingga rasa tenang. Kehadiran emosi sebenarnya membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya, meski tidak semua orang terbiasa mengenali perasaannya sendiri sejak kecil.
Menjadi dewasa sendiri sering dianggap sebagai kemampuan untuk tetap tenang dalam situasi apa pun. Padahal, kedewasaan emosional bukan berarti seseorang tidak pernah marah atau sedih, melainkan bagaimana ia memahami dan mengelola perasaan tersebut dengan lebih sehat. Kemampuan inilah yang dikenal sebagai regulasi emosi, yaitu proses mengenali emosi, memahami penyebabnya, lalu menentukan respons yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sayangnya, tidak semua orang tumbuh dengan kemampuan tersebut. Kalimat seperti “jangan nangis”, “jangan marah”, atau “harus sabar” membuat emosi sering dianggap sebagai sesuatu yang salah, bukan sesuatu yang perlu dipahami.
Sebuah penelitian tahun 2025 berjudul “Analisis Pola Asuh terhadap Emotional Regulation Anak Remaja Awal” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) menjelaskan bahwa pola asuh sangat memengaruhi kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi. Penelitian yang ditulis oleh Halen Dwistia, Isti Koma, Sulis Dian Ningsih, dan Citra Ayu Hidayah itu menemukan bahwa pola asuh responsif, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional membantu anak belajar memahami emosinya dengan lebih sehat.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang dewasa sebenarnya masih kesulitan menghadapi emosinya sendiri. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena sejak awal tidak pernah benar-benar dilatih. Ada yang terbiasa memendam semuanya hingga akhirnya meledak, ada pula yang merasa bersalah setiap kali menunjukkan kesedihan atau kemarahan.
Menariknya, regulasi emosi tetap bisa dipelajari kapan saja. Kedewasaan emosional bukan sesuatu yang otomatis hadir seiring bertambahnya usia, melainkan kemampuan yang dibangun perlahan melalui kesadaran diri, pengalaman, dan lingkungan yang sehat. Bahkan, mengakui bahwa diri sendiri masih kesulitan memahami emosi bisa menjadi langkah awal menuju kedewasaan itu sendiri.
Pada akhirnya, emosi bukan musuh yang harus dihilangkan. Yang terpenting bukan seberapa sering seseorang merasakan emosi, tetapi bagaimana ia belajar memahami dan mengekspresikannya dengan lebih bijak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....