Orang Tua Dapat Membantu Meningkatkan Produktifitas Remaja

  • 19 Jun 2026 12:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Ketika seorang remaja mulai mengalami tekanan psikologis, tanda yang paling pertama kali tertangkap adalah perubahan perilaku. Banyak diantara remaja memilih untuk menarik diri dari interaksi sosial, diam dikamar dan malas keluar dari zona nyaman.

Bagi orang tua, menyaksikan fase menutup diri ini tentu mendatangkan kecemasan tersendiri. Sebelum buru-buru menghakimi atau memberikan label anak malas, penting untuk disadari oleh orang tua bahwa sikap menjauh tersebut sering kali merupakan sinyal bahwa mereka tidak tahu cara mengungkapkan isi pikiran.

dr. Ariel Nugroho, SP.KJ dari PDSKJI Denpasar menyatakan tantangan terbesar dalam menghadapi remaja yang sedang menutup diri adalah mengikis rasa malas bergerak atau mager. Dalam kacamata psikologi, kondisi mager yang akut atau kecenderungan menunda-nunda sesuatu tidak hanya soal malas secara fisik.

Menunda melakukan sesuatu juga menjadi pertanda kondisi anak sedang berada di bawah bayang-bayang stres. Tubuh dan pikiran yang lelah akibat tekanan emosional cenderung menolak aktivitas luar ruangan yang dinilai menguras energi.

Di sinilah pendekatan yang bijak diperlukan agar mereka mau mulai menggerakkan tubuh tanpa merasa dipaksa atau dihakimi. Bagi remaja yang enggan keluar rumah atau enggan bergabung dengan tim besar, orang tua dapat memperkenalkan alternatif olahraga mandiri yang bersifat gamified.

Dr. Ariel menyarankan jenis olahraga ini memiliki elemen permainan, tantangan personal, dan target skor yang jelas seperti memanah atau menembak. Karakteristiknya yang interaktif mampu memicu rasa ingin tahu dan memberikan kepuasan instan saat berhasil mengenai sasaran, mirip dengan sensasi bermain game.

Satu hal krusial yang perlu dipahami oleh setiap keluarga adalah bahwa mekanisme pertahanan diri yang positif tidak bisa mendadak terbentuk secara instan. Seseorang tidak bisa langsung diminta berolahraga tepat pada hari di mana ia merasa sangat stres jika tidak ada fondasi yang mendahuluinya.

Tubuh manusia bekerja menggunakan sistem alarm yang berbasis pada memori kebiasaan. Jika rutinitas berolahraga sudah dibangun dan dipupuk sejak awal, maka secara otomatis tubuh dan pikiran remaja akan mengaktifkan mode tersebut sebagai pelarian alami yang dicari saat kenyamanan emosional mereka terusik.

Peran orang tua sebagai primary support group atau kelompok dukungan utama menjadi jangkar yang sangat menentukan. Langkah awal yang harus ditempuh bukanlah langsung menyodorkan jadwal latihan yang ketat, melainkan membangun jembatan komunikasi yang natural terlebih dahulu.

Orang tua perlu menurunkan ego untuk memahami aktifitas apa yang menarik perhatian sang anak. Komunikasi yang hangat dan tanpa tendensi menyalahkan akan membuat anak merasa divalidasi, sehingga mereka menjadi lebih terbuka untuk menerima saran-saran baru, termasuk ajakan untuk mulai aktif bergerak.

Proses menanamkan kebiasaan baru ini dapat dimulai secara perlahan dengan mendampingi anak mencoba berbagai jenis aktivitas fisik satu demi satu secara bergantian. Biarkan remaja mengeksplorasi sendiri olahraga apa yang paling mampu membuat mereka merasa nyaman dan melepaskan emosi negatif, sementara orang tua dapat memposisikan diri sebagai pendukung serta fasilitator yang supportive.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....