Daya Tarik Pasangan Orang Lain: Fenomena 'Mate Poaching' dari Sisi Psikologi
- 19 Mei 2026 15:19 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pernahkah Anda memperhatikan atau merasakan bahwa seseorang yang sudah berstatus berkomitmen atau memiliki pasangan terkadang tampak jauh lebih menarik dibandingkan mereka yang masih lajang? Fenomena ini bukan sekadar urusan moralitas, melainkan sebuah dinamika kognitif bawah sadar yang dalam ranah sains perilaku dikenal dengan istilah Mate Poaching atau Mate Choice Copying (peniruan pilihan pasangan).
Riset ilmiah menunjukkan bahwa cara kerja otak pria dan wanita dalam merespons fenomena ini memiliki akar psikologis dan evolusioner yang berbeda namun sama-sama kuat.
Dari Sisi Wanita: Efek 'Pre-Screening' dan Validasi Sosial.
Sebuah studi terkenal dari Oklahoma State University yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology mengungkapkan bahwa wanita secara signifikan lebih tertarik pada pria yang sudah berkomitmen dibandingkan saat pria tersebut berstatus lajang. Secara psikologis, wanita cenderung menggunakan metode Validasi Sosial (Social Proof).
Ketika seorang pria telah dipilih dan dipertahankan oleh wanita lain dalam sebuah hubungan yang stabil, pria tersebut dianggap telah melewati proses pre-screening (penyaringan awal). Di mata wanita lain, status berkomitmen ini menjadi jaminan tersirat bahwa sang pria memiliki kualitas-kualitas positif yang matang seperti kemampuan berkomunikasi, kebaikan hati, stabilitas emosional, hingga kemapanan finansial. Proses bawah sadar ini secara instan memangkas waktu dan risiko kognitif bagi wanita untuk menilai karakter seorang pria dari nol.
Dari Sisi Pria: Dorongan Kompetisi dan Efek Kelangkaan
Berbeda dengan wanita, ketertarikan pria terhadap wanita yang sudah berpasangan lebih banyak dipicu oleh psikologi evolusioner terkait kompetisi dan prinsip kelangkaan (scarcity effect). Pakar psikologi evolusioner, Prof. David Buss dari University of Texas at Austin, dalam bukunya "The Evolution of Desire", menjelaskan bahwa pria secara genetis memiliki insting kompetitif yang lebih reaktif.
Ketika seorang wanita sudah dimiliki oleh pria lain, nilai sosial wanita tersebut secara tidak sadar meningkat di mata pria lain karena adanya elemen tantangan dan eksklusivitas. Sesuatu yang sulit didapatkan atau berada di luar jangkauan secara alami memicu lonjakan hormon dopamin (hormon kesenangan dan penghargaan) di otak pria.
Akibatnya, muncul ilusi optik emosional yang membuat wanita tersebut terlihat jauh lebih ideal dan menawan daripada realitas aslinya.
Para pakar kesehatan mental mengingatkan bahwa ketertarikan pada pasangan orang lain, baik yang dialami pria maupun wanita, sering kali merupakan bentuk distorsi kognitif yang disebut fantasized perfection (fantasi kesempurnaan).
Seseorang cenderung hanya melihat bagian terbaik dari hubungan orang lain yang ditampilkan di permukaan seperti perlakuan manis di depan publik atau unggahan di media sosial. Pengamat tidak pernah melihat konflik, kekurangan, dan kompromi berat yang terjadi di dalam ruang privat hubungan tersebut.
Memahami bahwa ketertarikan ini melibatkan mekanisme fisik otak dan hormonal bawah sadar dapat membantu individu untuk berpikir lebih rasional. Mengagumi kualitas atau karakter seseorang adalah hal yang manusiawi. Namun, menyadari batasan moral, menghormati komitmen sosial orang lain, dan mengalihkan fokus untuk membangun relasi yang sehat secara mandiri adalah kunci utama untuk menjaga kesehatan emosional dan integritas diri di tengah kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....