Mengapa Duduk Terlalu Lama Menjadi Ancaman Kesehatan Global?

  • 15 Mei 2026 18:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bekerja di balik meja selama berjam-jam kini bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan ancaman kesehatan yang nyata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengategorikan perilaku kurang gerak atau sedentary lifestyle sebagai salah satu masalah kesehatan publik utama di dunia yang berkontribusi pada jutaan kematian setiap tahunnya.

Istilah "Sitting is the new smoking" yang dipopulerkan oleh Dr. James Levine, seorang profesor kedokteran di Mayo Clinic, bukanlah sekadar slogan belaka. Dalam bukunya yang berjudul "Get Up!: Why Your Chair is Killing You and What You Can Do About It", Dr. Levine memaparkan hasil risetnya bahwa duduk statis dalam waktu lama dapat memicu perubahan metabolisme yang berbahaya, mirip dengan dampak merokok jangka panjang.

Secara fisiologis, saat tubuh duduk diam lebih dari 30 menit, proses biologis di dalam otot mulai melambat. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, kurangnya aktivitas fisik menyebabkan penurunan enzim lipoprotein lipase secara drastis. Enzim ini berfungsi untuk membakar lemak dalam aliran darah. Jika enzim ini tidak aktif, lemak akan menumpuk dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta diabetes tipe 2.

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari 30% penduduk usia produktif memiliki pola perilaku sedenter yang tinggi. Hal ini diperparah dengan budaya kerja kantoran yang minim pergerakan fisik.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga menekankan bahwa risiko ini tetap mengintai meski seseorang rutin berolahraga di pusat kebugaran. Studi dari American Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa individu yang duduk lebih dari enam jam sehari memiliki risiko kematian 19% lebih tinggi dibandingkan mereka yang duduk kurang dari 3 jam, terlepas dari aktivitas olahraga yang mereka lakukan di luar jam kerja.

Dampak lainnya yang sering diabaikan adalah kesehatan tulang belakang. Berdasarkan literatur kedokteran fisik, duduk terlalu lama meningkatkan tekanan pada cakram intervertebralis di punggung bawah hingga 40% lebih besar dibandingkan saat berdiri. Hal ini memicu nyeri punggung kronis dan gangguan saraf terjepit (HNP).

Untuk memitigasi risiko tersebut, para ahli kesehatan merekomendasikan strategi "Active Sitting". WHO melalui panduan "Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour" menyarankan agar setiap orang dewasa melakukan jeda aktif setiap 30 menit. Langkah sederhana seperti berdiri saat menelepon, melakukan peregangan statis di meja kerja, atau menggunakan tangga dapat mengaktifkan kembali sirkulasi darah dan memperbaiki metabolisme.

Kesadaran akan bahaya duduk terlalu lama harus menjadi prioritas dalam gaya hidup masyarakat urban. Mengurangi durasi duduk dan memperbanyak gerak aktif bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan medis untuk menjaga umur panjang dan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....