Paradoks Media Sosial: Mengapa Kita Merasa Kesepian di tengah Keramaian Digital?

  • 12 Mei 2026 21:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kehadiran media sosial seharusnya membuat manusia merasa lebih terhubung tanpa batasan ruang dan waktu. Namun, realitasnya banyak individu justru merasa semakin terisolasi dan kesepian meskipun memiliki ribuan teman di dunia maya.

Fenomena ini sering disebut sebagai paradoks media sosial, di mana koneksi digital yang intens gagal menggantikan kedalaman interaksi fisik. Secara psikologis, kualitas hubungan antarmanusia tidak dapat diukur hanya melalui jumlah pengikut atau interaksi di kolom komentar.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, menjelaskan bahwa teknologi sering kali mengubah struktur interaksi sosial menjadi lebih permukaan. Menurutnya, komunikasi digital cenderung kehilangan aspek empati dan kehangatan yang biasanya didapatkan melalui tatap muka secara langsung.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dirilis Kementerian Kesehatan RI menunjukkan adanya peningkatan masalah kesehatan mental pada kelompok usia produktif. Salah satu indikator utamanya adalah meningkatnya perasaan terasing dari lingkungan nyata akibat ketergantungan tinggi terhadap gawai.

Pakar literasi digital Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, juga menyoroti bahwa pola komunikasi masyarakat urban saat ini lebih banyak bersifat termediasi. Hal ini menyebabkan "rasa" dalam berkomunikasi tidak tersampaikan sepenuhnya, sehingga meskipun aktif di media sosial, seseorang tetap merasa sepi.

Penelitian dari University of Pennsylvania turut mendukung temuan ini dengan mengungkapkan bahwa membatasi penggunaan media sosial dapat mengurangi rasa kesepian. Paparan layar yang berlebihan secara terus-menerus justru menjauhkan individu dari keterlibatan emosional yang nyata dengan keluarga.

Secara biologis, tubuh manusia membutuhkan kontak fisik dan tatap muka untuk melepaskan hormon oksitosin yang menciptakan rasa tenang. Hormon ini tidak dapat diproduksi secara maksimal hanya melalui pemberian tanda suka atau like di unggahan digital.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyarankan agar masyarakat mulai meluangkan waktu khusus untuk berinteraksi tanpa gangguan gawai. Langkah ini krusial untuk membangun kembali kepedulian dalam kehidupan bertetangga maupun berkeluarga.

Membangun kembali komunitas di dunia nyata dan terlibat dalam kegiatan sosial fisik merupakan langkah kunci untuk mengatasi rasa terisolasi. Keberanian untuk meletakkan ponsel dan mulai menyapa orang di sekitar secara langsung adalah awal dari koneksi manusiawi yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....