Menilik Fenomena Malas: Sekadar Kebiasaan atau Indikasi Gangguan Kesehatan?
- 10 Mei 2026 17:15 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Rasa malas sering kali dianggap sebagai cacat karakter atau kurangnya motivasi yang dialami oleh seseorang dalam menjalani rutinitas. Namun, dunia medis dan psikologi mulai melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar keengganan bekerja.
Secara terminologi medis, malas bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan sebuah gejala yang bisa mengacu pada berbagai kondisi fisik maupun mental. Kehilangan minat dan energi secara drastis sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh sedang tidak dalam kondisi prima.
Dalam bidang psikiatri, kondisi yang menyerupai rasa malas kronis dikenal dengan istilah avolition atau penurunan motivasi yang ekstrem. Gejala ini sering ditemukan pada penderita gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan pemusatan perhatian atau ADHD.
Pakar kesehatan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menjelaskan bahwa kurangnya dopamin di otak memengaruhi sistem reward. Hal ini menyebabkan seseorang sulit merasa termotivasi untuk memulai atau menyelesaikan sebuah tugas sederhana sekalipun.
Selain faktor mental, rasa malas yang disertai kelelahan ekstrem juga bisa disebabkan oleh gangguan fisik seperti anemia atau kekurangan sel darah merah. Kondisi ini membuat distribusi oksigen ke seluruh tubuh terhambat sehingga penderitanya merasa lemas dan tidak berdaya.
Gangguan fungsi tiroid juga sering menjadi penyebab tersembunyi di balik rasa kantuk dan keengganan beraktivitas yang berkepanjangan. Hormon tiroid yang rendah menurunkan metabolisme tubuh secara signifikan dan berdampak pada penurunan energi harian secara drastis.
Namun, masyarakat juga perlu membedakan antara gejala medis dengan perilaku prokrastinasi atau kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinasi lebih berkaitan dengan manajemen emosi negatif terhadap suatu tugas daripada gangguan fungsi biologis tubuh.
Gaya hidup sedentari dan pola makan yang tinggi gula juga berkontribusi pada munculnya perasaan malas yang bersifat sementara. Lonjakan gula darah yang diikuti penurunan drastis sering kali membuat tubuh merasa "drop" dan kehilangan semangat di tengah hari.
Para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai peka terhadap durasi dan intensitas rasa malas yang dirasakan secara berulang. Jika rasa malas disertai dengan perasaan sedih yang dalam atau gangguan tidur, segera konsultasikan kepada tenaga medis profesional.
Mengadopsi pola hidup sehat melalui olahraga teratur dan asupan nutrisi seimbang merupakan langkah awal untuk mengembalikan kebugaran tubuh. Kesadaran akan kesehatan mental dan fisik menjadi kunci utama untuk bangkit dari jeratan rasa malas yang produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....