Alasan Seseorang Marah saat Ditegur meski Melakukan Kesalahan
- 05 Mei 2026 14:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pernahkah Anda merasa kesal saat seseorang menegur kesalahan Anda secara langsung? Reaksi ini merupakan fenomena psikologis alami yang dipicu oleh mekanisme perlindungan diri di dalam otak.
Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence menjelaskan bahwa reaksi ini disebut sebagai pembajakan amigdala. Amigdala yang mendeteksi ancaman sosial akan mengambil alih kendali otak sebelum logika sempat berpikir jernih.
Secara biologis, serangan emosional ini memicu respons stres yang membuat detak jantung meningkat tajam. Kondisi tersebut mendorong seseorang untuk melakukan perlawanan verbal sebagai bentuk pertahanan diri yang instan.
Selain faktor biologis, kemarahan muncul akibat disonansi kognitif yang dipopulerkan Leon Festinger dalam A Theory of Cognitive Dissonance. Teori ini menggambarkan ketidaknyamanan mental saat seseorang dihadapkan pada bukti nyata atas kesalahannya.
Individu cenderung menyerang balik pemberi teguran demi mengurangi ketegangan batin akibat rusaknya citra diri. Hal ini dilakukan agar ego mereka tetap terlindungi dari perasaan malu yang berlebihan.
Fritz Heider dalam The Psychology of Interpersonal Relations juga menyoroti adanya bias atribusi dalam interaksi manusia. Kita cenderung menyalahkan situasi luar saat melakukan kesalahan, namun menyalahkan karakter saat menilai orang lain.
Perbedaan persepsi inilah yang sering kali memicu konflik dan rasa tidak terima saat ditegur di ruang publik. Teguran dianggap sebagai serangan terhadap status sosial yang memicu rasa malu daripada rasa bersalah.
Fenomena ini sering terlihat saat seseorang ditegur karena melanggar ketertiban, seperti parkir sembarangan atau membuang sampah. Bukannya meminta maaf, pelaku sering kali lebih galak karena energi negatif keluar dalam bentuk pembelaan diri.
Di dunia kerja, reaksi defensif ini sering menghambat profesionalitas karena kritik dianggap sebagai kebencian personal. Padahal, kemampuan menerima teguran dengan kepala dingin adalah tanda kematangan emosional yang sangat penting.
Masyarakat perlu menyadari bahwa teguran adalah bagian dari kontrol sosial demi menjaga ketertiban bersama. Komunikasi yang empatik dan tertutup terbukti lebih efektif menembus pertahanan diri dibandingkan dengan kecaman terbuka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....