Tall Poppy Syndrome: Alasan Psikologis Mengapa Orang Sukses Sering Dibenci

  • 23 Mei 2026 11:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di lingkungan kerja, sekolah, atau bahkan dalam lingkaran pertemanan sehari-hari, Anda mungkin pernah menyaksikan atau merasakan sebuah fenomena yang unik. Ketika ada seorang individu yang tampil sangat menonjol, meraih prestasi luar biasa, atau mencapai kesuksesan di atas rata-rata kelompoknya, sebagian orang di sekitarnya justru tidak ikut senang.

Alih-alih memberikan apresiasi, mereka cenderung mencari-cari kesalahan, mengkritik secara halus, atau bahkan berusaha "menjatuhkan" reputasi orang berprestasi tersebut. Dalam ranah psikologi sosial dan sosiologi, kecenderungan komunal untuk membenci, mengkritik, atau merendahkan orang-orang yang mencapai kesuksesan tinggi dikenal dengan istilah Tall Poppy Syndrome (Sindrom Bunga Poppy Tinggi).

Istilah ini diambil dari analogi perkebunan kuno: bunga poppy yang tumbuh paling tinggi dan melewati batas tinggi bunga lainnya, akan menjadi bunga yang pertama kali dipotong agar tingginya kembali seragam. Fenomena ini bukanlah sekadar asumsi perilaku, melainkan subjek penelitian ilmiah yang mendalam.

Salah satu akademisi terkemuka yang mendedikasikan risetnya untuk membedah fenomena ini adalah seorang psikolog dari Flinders University, Australia, Prof. N. T. Feather. Melalui serangkaian eksperimen sosialnya yang dibukukan dalam "The Price of Success: Tall Poppies and White Poppies", Prof. Feather menemukan bahwa reaksi negatif terhadap orang sukses sangat dipengaruhi oleh persepsi kelompok tentang "keadilan" (deservingness).

Secara psikologis, ketika seseorang meraih kesuksesan yang sangat mencolok, kehadiran mereka secara tidak sadar memicu ancaman terhadap harga diri (self-esteem) orang-orang di sekitarnya. Keberhasilan individu tersebut memaksa anggota kelompok lain untuk mengintrospeksi kekurangan diri mereka sendiri.

Akibatnya, muncul rasa tidak aman (insecurity) komunal. Untuk meredakan ketidaknyamanan mental tersebut, otak merancang mekanisme koping negatif berupa keinginan untuk melihat orang sukses tersebut itu gagal atau turun ke level yang sama dengan mereka.

Riset klinis mendalam yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology menjelaskan bahwa Tall Poppy Syndrome berkaitan erat dengan emosi spesifik bernama Schadenfreude, yaitu sensasi kesenangan atau kepuasan rahasia yang dirasakan seseorang saat melihat orang lain mengalami kegagalan atau kemunduran. Studi tersebut membuktikan bahwa individu yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah menunjukkan lonjakan emosi schadenfreude yang jauh lebih tinggi ketika melihat orang sukses jatuh.

Menurunkan posisi orang yang berada di atas dianggap sebagai cara instan untuk menaikkan kembali status sosial atau harga diri kelompok yang merasa tertinggal, tanpa mereka harus bersusah payah meningkatkan kualitas diri mereka sendiri. Di era digital, sindrom ini diamplifikasi secara masif oleh media sosial. Budaya unjuk pencapaian (flexing) atau sekadar berbagi kebahagiaan di lini masa sering kali ditangkap secara bias oleh algoritma psikologis warganet sebagai ajang pamer, yang kemudian memicu gerakan kolektif untuk melakukan pembunuhan karakter (cancel culture) terhadap figur yang dianggap terlalu bersinar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....