BLINC 2026: Kasus Stroke di Indonesia Perlu Perhatian Serius

  • 28 Apr 2026 07:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Nusa Dua - Berdasarkan data yang dipaparkan dalam konferensi internasional Bali International Neurovascular Intervention Conference 2026 (BLINC), prevalensi stroke mencapai 10,9 per 1.000 penduduk. Untuk beban pembiayaan kesehatan, stroke hampir menyamai penyakit jantung yang masih ada di peringkat pertama.

Dari data yang diungkapkan oleh BRIN pada 2024, penyakit kardiovaskular atau gangguan pada jantung dan pembuluh darah, menjadi masalah kesehatan global yang semakin meningkat di antara Penyakit Tidak Menular (PTM). Kardiovaskular merupakan penyebab utama mortalitas di Indonesia berdasarkan studi kohort PTM pada 2011-2021.

Isu terkait stroke dan neurovascular ini menjadi fokus utama dalam BLINC 2026 yang digelar di Bali International Convention Center pada 27–28 April 2026. Ketua BLINC 2026, dr. Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas menegaskan bahwa stroke merupakan kondisi medis darurat yang membutuhkan penanganan cepat, bahkan sejak fase pre-hospital atau sebelum pasien tiba di rumah sakit.

“Penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan. Idealnya, terapi obat bisa diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul," ucapnya.

"Di atas itu, intervensi lanjutan seperti kateterisasi bisa dilakukan,” tambahnya diamini oleh Wakil Ketua Konferensi BLINC 2026 Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S (K), FINS, FINA.

Ia menambahkan, 24 jam pertama menjadi periode krusial yang menentukan peluang pasien untuk pulih tanpa kecacatan permanen. Selain faktor genetik, stroke juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Hipertensi, diabetes, kurang aktivitas fisik, hingga pola hidup sedentari menjadi pemicu utama meningkatnya kasus stroke di Indonesia.

“Stroke saat ini banyak dipicu oleh gaya hidup. Kurang bergerak, pola makan tidak sehat, dan penyakit penyerta seperti darah tinggi harus diantisipasi sejak dini,” ujarnya.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperkuat layanan penanganan stroke dengan mendistribusikan peralatan medis seperti CT scan, MRI, hingga fasilitas kateterisasi (cath lab). Namun, menurut dr. Affan, kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi kunci utama.

“Alat yang canggih harus diimbangi dengan tim medis yang siap dan terlatih,” tegasnya.

Di Bali, layanan penanganan stroke sudah cukup lengkap, termasuk di RSUP Prof. Ngoerah yang mampu menangani pasien dalam waktu cepat sejak gejala awal muncul. BLINC 2026 diikuti sekitar 400 peserta dari dalam dan luar negeri, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peserta berasal dari berbagai negara seperti Jerman, Singapura, Malaysia, China, India, Korea Selatan, hingga sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat. Konferensi ini mengusung pendekatan multidisiplin dengan melibatkan tiga bidang utama, yakni radiologi, bedah saraf, dan neurologi.

Sebanyak 60 persen pembicara berasal dari luar negeri, dan seluruh sesi diselenggarakan dalam bahasa Inggris untuk meningkatkan standar komunikasi medis global. “Ke depan, kami ingin Indonesia menjadi pusat keunggulan penanganan stroke," ucapnya.

"Dengan populasi besar, dokter kita memiliki jam terbang tinggi dan potensi besar untuk menjadi rujukan dunia,” tambah dr. Affan.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk mengenali gejala stroke melalui metode BE FAST yaitu B (Balance) atau kehilangan keseimbangan. Lalu E (Eyes) yang merupakan gangguan penglihatan. lalu ada F (Face) dimana wajah tampak menurun.

Selanjutnya ada A (Arms) yang merupakan kelemahan pada lengan/kaki. S (Speech) ketika seseorang penderita stroke mulai berbicara tidak jelas. Terakhir adalah T (Time) yang dianjurkan agar pasien dengan gejala stroke awal untuk egera ke rumah sakit.

Deteksi dini dinilai menjadi kunci untuk menekan angka kematian dan kecacatan akibat stroke. Dengan kolaborasi antara tenaga medis, pemerintah, dan dukungan teknologi, Indonesia optimistis mampu meningkatkan kualitas penanganan stroke sekaligus menurunkan angka fatalitas di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....