Bagaimana Perilaku "Cari Muka" Merugikan Kesehatan dan Produktivitas Rekan Kerja
- 14 Apr 2026 00:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Fenomena individu yang hanya mengejar keuntungan pribadi di tempat kerja tidak hanya berdampak pada diri mereka sendiri, tetapi juga menciptakan efek domino yang merugikan orang-orang di sekitarnya. Keharmonisan lingkungan kerja menjadi aset berharga yang sering kali rusak akibat tindakan manipulatif yang mengabaikan kepentingan tim.
Berdasarkan tinjauan klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), perilaku ini muncul dari kecemasan tinggi akan posisi pekerjaan atau ambisi karier yang instan. Pelaku cenderung menggunakan taktik manipulasi emosional untuk menciptakan citra positif yang semu di mata atasan tanpa memedulikan nilai kejujuran di tahun dua ribu dua puluh enam.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menjelaskan bahwa perilaku mencari muka dapat merusak moral tim secara sistemik. Hal ini menciptakan lingkungan kompetisi yang tidak sehat dan menghambat komunikasi jujur yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan sebuah instansi atau organisasi.
International Labour Organization (ILO) dalam laporannya mengenai lingkungan kerja yang sehat menekankan bahwa perilaku individualistik merusak "modal sosial" atau kepercayaan antar-rekan kerja. Ketika kepercayaan hilang, kolaborasi menjadi terhambat. rekan kerja lainnya sering kali harus menanggung beban kerja tambahan untuk memastikan kualitas hasil akhir tetap terjaga, sementara pelaku hanya fokus pada pencitraan.
World Health Organization (WHO) mengategorikan lingkungan kerja yang kompetitif secara tidak sehat sebagai pemicu utama stres psikososial bagi karyawan lain. Paparan terus-menerus terhadap ketidakadilan di kantor dapat menyebabkan rekan kerja mengalami gangguan kecemasan, penurunan motivasi, hingga burnout karena merasa usaha jujur mereka tidak dihargai sebanding dengan upaya manipulatif.
Para ahli manajemen organisasi dari Harvard Business Review mencatat bahwa budaya "asal bapak senang" mematikan nalar kritis di lingkungan kerja. Rekan kerja cenderung menjadi pasif dan enggan memberikan ide-ide inovatif karena merasa kontribusi mereka akan diklaim atau justru dijatuhkan demi kepentingan pribadi si pelaku, yang mengakibatkan stagnasi organisasi.
Perilaku mencari muka pada akhirnya menciptakan ekosistem kerja yang beracun, di mana integritas dikalahkan oleh manipulasi. Mengedepankan transparansi dan keadilan dalam penilaian kinerja adalah cara terbaik untuk melindungi kesehatan mental dan produktivitas seluruh anggota tim dari dampak negatif perilaku individualistik ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....