Membangun Anak yang Tangguh Secara Emosional sejak Dini
- 13 Apr 2026 16:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, membangun ketangguhan emosional anak sejak dini menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Tidak hanya soal kecerdasan akademik, kemampuan anak dalam mengelola emosi justru menjadi fondasi penting untuk menghadapi berbagai tekanan hidup, termasuk risiko gangguan kesehatan mental di masa depan.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, menekankan bahwa pembentukan kekuatan mental anak sangat ditentukan pada fase awal kehidupan, khususnya dalam lingkungan keluarga.
“Anak-anak tidak tiba-tiba menjadi kuat. Mereka dibentuk dari pola asuh, cara orang tua merespons emosi, dan bagaimana mereka diperlakukan sejak kecil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak anak tumbuh dengan kebiasaan menahan perasaan karena pengalaman dimarahi atau tidak didengarkan. Hal ini membuat mereka cenderung memilih diam ketika menghadapi masalah, alih-alih mengungkapkan apa yang dirasakan. Padahal, kemampuan mengekspresikan emosi secara sehat merupakan bagian penting dari ketangguhan mental.
Ketangguhan emosional sendiri bukan berarti anak tidak pernah merasa sedih atau marah. Sebaliknya, anak yang tangguh adalah mereka yang mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan baik. Mereka juga memiliki keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Menurut para ahli, ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk membangun fondasi ini sejak dini. Salah satunya adalah memberikan ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Mendengarkan dengan empati, tanpa langsung menyalahkan atau meremehkan perasaan anak, menjadi langkah awal yang penting.
Selain itu, orang tua juga perlu menjadi contoh dalam mengelola emosi. Cara orang tua merespons stres, konflik, atau kegagalan akan secara langsung ditiru oleh anak. Lingkungan keluarga yang hangat dan suportif akan membantu anak merasa aman untuk berkembang secara emosional.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial turut memberikan tantangan baru. Anak-anak kini lebih mudah terpapar berbagai informasi dan tekanan sosial sejak usia dini. Tanpa bekal ketangguhan emosional yang cukup, mereka berisiko mengalami stres hingga depresi.
“Kalau fondasi di masa kecil kuat, anak akan lebih siap menghadapi tekanan di masa remaja,” tambahnya.
Karena itu, masa 10 tahun pertama kehidupan anak sering disebut sebagai periode emas yang tidak hanya menentukan perkembangan fisik dan kognitif, tetapi juga kesehatan mental jangka panjang.
Membangun anak yang tangguh secara emosional memang bukan proses instan. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan keterlibatan aktif dari orang tua. Namun, investasi ini menjadi sangat berharga, mengingat dampaknya yang akan dirasakan sepanjang hidup anak.
Dengan pendekatan yang tepat, anak tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga mampu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih kuat dan bijak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....