Dua Minggu yang Menentukan: Kapan Sedih Berubah Jadi Depresi?

  • 13 Apr 2026 16:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Perasaan sedih adalah hal yang wajar dialami setiap orang, termasuk remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Namun, kapan sebenarnya kesedihan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, seperti depresi?

Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, menjelaskan bahwa perbedaan utama antara emosi sedih biasa dan depresi terletak pada durasi serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

“Depresi itu bukan sekadar sedih. Ada perubahan suasana hati yang berlangsung minimal dua minggu, disertai dengan kehilangan minat, rasa putus asa, dan penurunan energi,” jelasnya.

Menurutnya, batas waktu dua minggu menjadi indikator penting yang sering kali diabaikan. Banyak orang tua menganggap perubahan emosi remaja sebagai hal biasa, padahal kondisi tersebut bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Pada kondisi normal, emosi sedih biasanya bersifat sementara. Remaja yang mengalami kekecewaan, misalnya karena nilai sekolah atau konflik pertemanan, umumnya dapat kembali ceria setelah beraktivitas atau bertemu teman. Namun, pada depresi, kondisi tersebut tidak kunjung membaik.

“Mereka kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, sulit beraktivitas, bahkan bisa menarik diri dari lingkungan sosial,” tambahnya.

Residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. Saiful Bahri, menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, gejala berat bahkan bisa muncul sebelum dua minggu, terutama jika sudah ada tanda-tanda berbahaya seperti keinginan menyakiti diri.

“Kalau sudah muncul pikiran untuk menyakiti diri atau bunuh diri, itu tidak perlu menunggu dua minggu. Itu sudah masuk kondisi darurat dan harus segera ditangani,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa remaja sering kali tidak mengekspresikan kesedihan secara langsung. Alih-alih terlihat sedih, mereka justru menunjukkan perubahan perilaku seperti mudah marah, sensitif, atau menarik diri.

“Ini yang sering disalahartikan. Orang tua mengira anaknya hanya sedang berubah sikap, padahal bisa jadi itu tanda awal depresi,” ujarnya.

Selain itu, perubahan pola tidur, nafsu makan, hingga penurunan prestasi juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Sayangnya, di tengah kesibukan, tidak sedikit orang tua yang luput memperhatikan perubahan kecil tersebut.

Padahal menurut Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, peran keluarga menjadi kunci dalam mendeteksi kondisi ini sejak dini. Remaja membutuhkan ruang aman untuk bercerita, serta kehadiran orang tua yang mau mendengar tanpa menghakimi.

“Kalau kita tidak bertanya, mereka cenderung tidak akan bercerita. Itu sebabnya penting bagi orang tua untuk lebih peka dan aktif,” tegasnya.

Di tengah dinamika kehidupan remaja yang semakin kompleks, memahami batas antara sedih dan depresi menjadi langkah awal yang penting. Dua minggu mungkin terdengar singkat, namun dalam konteks kesehatan mental, waktu tersebut bisa menjadi penentu antara kondisi yang bisa pulih dengan sendirinya atau yang membutuhkan bantuan profesional. Kesadaran, kepekaan, dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar tidak ada lagi kondisi depresi yang terlewat tanpa penanganan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....