Mengapa Suara Hujan Membuat Kita Lebih Mudah Terlelap?

  • 24 Feb 2026 16:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Suara hujan sering dianggap sebagai “pengantar tidur alami”. Banyak orang merasa lebih cepat terlelap ketika mendengar rintik air jatuh di atap, dedaunan, atau jendela. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tetapi berkaitan dengan cara otak merespons suara yang konsisten dan menenangkan.

Pertanyaannya, mengapa tidur umum dikaitkan dengan fenomena hujan? Penelitian Yoon dan Baek (2021) asal Korea Selatan berupaya menjabarkan keterkaitan tersebut. Secara keseluruhan, mereka membahas pengaruh rangsangan auditori (suara) terhadap kualitas tidur manusia.

Selain itu, istilah white noise dan pink noise juga berkaitan dengan pembahasan soal kualitas tidur dan relaksasi. Banyak orang memanfaatkan kedua jenis suara ini sebagai terapi non-medis untuk membantu mengatasi sulit tidur, meningkatkan fokus, hingga menciptakan suasana yang lebih tenang.

White noise adalah suara yang mengandung seluruh spektrum frekuensi dengan intensitas yang relatif sama. Secara sederhana, white noise terdengar seperti suara “desis” yang stabil, misalnya suara kipas angin, AC, atau siaran televisi tanpa sinyal.

Pink noise mirip dengan white noise, tetapi memiliki distribusi frekuensi yang berbeda. Pada pink noise, frekuensi rendah lebih dominan dibanding frekuensi tinggi. Akibatnya, suara ini terdengar lebih lembut dan alami. Contoh pink noise antara lain suara hujan, gemericik air, atau angin yang berhembus pelan. Karena terdengar lebih natural, pink noise sering dianggap lebih nyaman untuk relaksasi jangka panjang.

Dengan demikian, keterkaitan antara hujan dan tidur bukan sekadar persepsi subjektif. Ada penjelasan ilmiah yang mendukung bahwa suara hujan dapat menciptakan suasana aman, tenang, dan kondusif untuk beristirahat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....