Universitas di Singapura Buat Prototipe Pusat Data Biologis dengan Sel Otak

  • 27 Agt 2026 14:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Singapura - Singapura disebut mencoba jalur berbeda dengan mengembangkan pusat data biologis yang memanfaatkan neuron manusia hidup untuk membantu proses komputasi. Dilansir dari NUS Medicine, proyek ini dikembangkan NUS Medicine bersama perusahaan pusat data DayOne dan startup komputasi biologis asal Melbourne, Australia, Cortical Labs.

Prototipenya ditempatkan di NUS Life Sciences Institute dan menjadi langkah menuju pusat data biologis berskala besar pertama di Singapura sekaligus yang pertama di luar Australia. Meski terdengar seperti komputer yang memakai otak manusia, teknologi ini tidak menggunakan otak manusia utuh.

Sel saraf yang dipakai ditumbuhkan di laboratorium dari sel punca, kemudian ditempatkan dalam perangkat khusus yang memungkinkan neuron berkomunikasi dengan komputer. Perangkat tersebut disebut CL1, yang menggabungkan neuron hidup dengan chip dan sistem elektronik.

Neuron menerima rangsangan listrik, kemudian aktivitas listrik yang dihasilkannya dibaca kembali oleh komputer sebagai bagian dari proses pengolahan informasi. Pada tahap awal, Singapura menggunakan 20 unit CL1 yang disusun dalam satu rak server biologis. NUS menyebut sistem ini sebagai contoh penggunaan "wetware", yaitu komponen biologis hidup yang bekerja berdampingan dengan hardware dan software.

Salah satu alasan pengembangan teknologi ini adalah kemampuan alami neuron untuk belajar dan beradaptasi. Para peneliti berharap kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan proses belajar dengan data lebih sedikit dibandingkan sistem AI konvensional.

Efisiensi energi juga menjadi perhatian karena pusat data AI membutuhkan daya yang besar. NUS menyebut komputasi biologis berpotensi bekerja dengan kebutuhan energi yang jauh lebih rendah, meskipun keunggulan tersebut masih perlu diuji lebih luas pada berbagai jenis pekerjaan.

Teknologi ini karena itu belum ditujukan untuk menggantikan CPU atau GPU. Model yang lebih mungkin adalah neuron menangani tugas tertentu, sementara komputer biasa tetap mengerjakan pekerjaan yang lebih sesuai dengan chip digital.

Perkembangan terbaru ini bukan eksperimen pertama Cortical Labs dengan neuron manusia. Pada 2021, perusahaan tersebut menunjukkan bahwa neuron yang ditumbuhkan di atas chip dapat belajar memainkan permainan Pong dengan menerima informasi dari komputer dan memberikan respons kembali.

Pada 7 Juli 2025, jurnal Nature Reviews Bioengineering juga membahas CL1 sebagai perangkat yang memungkinkan kultur sel saraf berinteraksi dengan sistem elektronik secara real-time. Sistem tersebut dilengkapi mekanisme pendukung kehidupan agar neuron dapat tetap berfungsi selama proses penelitian.

Kemudian pada 6 Agustus 2026, prototipe pusat data biologis di Singapura diperlihatkan kepada lebih dari 80 tamu dari kalangan akademisi, perusahaan, teknologi, dan infrastruktur digital. Demonstrasi itu memperlihatkan pengoperasian CL1, integrasi jaringan elektroda, serta aktivitas jaringan saraf secara real-time.

Penggunaan neuron hidup juga membuka kemungkinan di luar pusat data. Peneliti dapat memanfaatkannya untuk mempelajari cara sel saraf belajar, merespons obat, dan mengalami perubahan akibat penyakit.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

“Platform ini dapat membantu kami memahami proses belajar dan adaptasi dari sumber biologisnya,” ujar Professor Rickie Patani dari NUS. Cortical Labs juga mengincar bidang seperti penemuan obat, robot humanoid, keamanan siber, dan deteksi penipuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....