Perubahan Iklim Diam-Diam Mencekik Oksigen Sungai Kita

  • 07 Jun 2026 17:17 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Hasil riset terbaru membuktikan bahwa wilayah sungai tropis menjadi area yang paling rapuh mengalami krisis hipoksia.
  • Komunitas global perlu segera melakukan aksi nyata mitigasi guna menyelamatkan kelestarian air dan masa depan bumi.
  • Perubahan iklim global menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut yang mengancam kehidupan ekosistem sungai di seluruh dunia.

RRI.CO.ID, Denpasar - Krisis iklim global kini diam-diam sedang mencekik pasokan oksigen di ribuan jalur sungai seluruh permukaan bumi. Fenomena berbahaya ini mengancam kelangsungan hidup ekosistem air tawar yang menjadi tumpuan keanekaragaman hayati kita.

Sebuah riset terbaru dalam jurnal Science Advances pada 15 Mei mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai penurunan oksigen tersebut. Tim peneliti internasional mencatat bahwa sebanyak 78,8 persen sungai di dunia mengalami penyusutan kadar oksigen terlarut.

Para ahli memanfaatkan algoritma kecerdasan buatan untuk melacak kondisi kesehatan 21.439 titik aliran sungai di dunia. Hasil pengamatan data selama hampir empat dekade dari tahun 1985 hingga 2023 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Kadar oksigen terlarut global menyusut dengan kecepatan rata-rata mencapai angka minus 0,045 miligram per liter setiap dekade. Laman SciTechDaily melaporkan bahwa penurunan total pasokan oksigen sungai saat ini sudah menyentuh angka 2,1 persen.

Penurunan ini sepintas terlihat kecil, namun akumulasi dampaknya dapat menciptakan zona mati yang mematikan bagi biota air. "Jika tempat memancing favorit Anda terlalu hangat, kadar oksigen pasti turun dan ikan akan pergi," kata ilmuwan.

Zonasi penurunan oksigen terparah justru terjadi pada kawasan sungai tropis di antara garis lintang 20 derajat Selatan dan Utara. Kenyataan ini membantah dugaan awal para ilmuwan yang mengira wilayah kutub akan menjadi pusat penurunan oksigen terbesar.

Sungai tropis ternyata sangat rapuh karena secara alami memang sudah memiliki konsentrasi oksigen bawaan yang cenderung rendah. Percepatan penurunan oksigen di wilayah tropis seperti India meningkatkan risiko terjadinya bencana hipoksia akut bagi makhluk hidup.

Kondisi arus air yang tidak stabil serta keberadaan bendungan besar turut memengaruhi tingkat keparahan hilangnya oksigen ini. Pembangunan bendungan dapat mempercepat penurunan oksigen pada waduk dangkal, namun justru bisa membantu memitigasi pada waduk dalam.

Gelombang panas ekstrem akibat pemanasan global juga ikut menyumbang sekitar 22,7 persen dari total deoksigenasi sungai dunia. Fenomena cuaca ekstrem ini meningkatkan laju kehilangan oksigen sungai sebesar 0,01 miligram per liter di setiap dekade.

Jika emisi karbon bumi terus memburuk, sungai di Amerika Timur hingga Amazon diproyeksikan kehilangan 10 persen oksigen. Kita semua harus bergerak bersama menjaga kelestarian lingkungan hidup demi menyelamatkan masa depan sumber air bersih bumi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....