China Bangun Pusat Data Bawah Laut untuk Dukung Inovasi AI

  • 28 Mei 2026 12:49 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - China terus memperluas penggunaan artificial intelligence (AI) dengan menghadirkan berbagai inovasi baru yang menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan. Terobosan terbarunya, salah satunya adalah pembangunan pusat data bawah laut atau underwater data center (UDC) di dekat kawasan Lingang, Shanghai.

Dilansir dari Mercator Institute, pada Desember 2025 fasilitas senilai US$226 juta itu berada sekitar 35 meter di bawah permukaan laut dan diklaim menjadi pusat data bawah laut pertama di dunia yang menggunakan listrik dari pembangkit angin lepas pantai. Teknologi ini dibuat untuk menjawab kebutuhan komputasi AI yang semakin besar sekaligus mengurangi konsumsi energi dari pusat data konvensional.

Pusat data tersebut menampung hampir 2.000 server, termasuk klaster GPU milik China Telecom dan LinkWise yang digunakan untuk memproses pekerjaan AI, layanan 5G, hingga anotasi data skala besar. Sistem pendinginnya memanfaatkan suhu alami air laut sehingga tidak memerlukan pendingin industri berukuran besar seperti data center di daratan.

Efisiensi energi menjadi salah satu keunggulan utama fasilitas ini. Menurut laporan media China, pusat data tersebut mampu mencatat tingkat Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15, lebih rendah dibanding rata-rata industri global yang berada di kisaran 1,5.

Semakin berkembangnya AI membuat kebutuhan listrik pusat data di berbagai negara melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, banyak perusahaan teknologi dunia mulai mencari solusi yang lebih ramah lingkungan agar penggunaan AI tidak memperparah konsumsi energi global.

Selain lebih hemat listrik, lokasi bawah laut juga dinilai membantu menjaga suhu server tetap stabil sehingga umur perangkat bisa lebih panjang. Konsep serupa sebenarnya pernah diuji beberapa perusahaan teknologi global, tetapi China menjadi salah satu negara pertama yang mengoperasikannya dalam skala besar untuk kebutuhan AI komersial.

China memang sedang agresif memperkuat dominasi teknologinya, termasuk di industri robotik dan AI. International Federation of Robotics (IFR) mencatat pangsa pemasok robot lokal China naik dari 30% pada 2020 menjadi 57% pada 2024 seiring meningkatnya otomatisasi di berbagai sektor industri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....