Masyarakat Indonesia Sering Jadi Target Kejahatan Siber Ini
- 10 Mar 2026 12:30 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Indonesia saat ini menghadapi peningkatan signifikan dalam berbagai bentuk kejahatan digital seiring pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan internet. Kondisi ini bahkan membuat Indonesia disebut berada dalam situasi “darurat penipuan digital” dengan kerugian masyarakat mencapai sekitar Rp7,3 triliun hingga Oktober 2025 menurut laporan Global Fraud Index 2025 (Global Anti-Scam Alliance, 2025).
Ancaman yang paling dominan dilaporkan ialah phishing. Kejahatan yang sering berujung pada pembajakan akun digital, terutama melalui aplikasi WhatsApp yang sangat populer di Indonesia. Pelaku biasanya mengirimkan tautan berbahaya dengan modus kurir paket, undangan acara, atau dokumen penting untuk mencuri kode OTP dan mengambil alih akun korban.
Teknik ini sering berkembang menjadi account takeover (ATO), yaitu pengambilalihan akun korban untuk menipu orang lain dalam jaringan kontaknya. Laporan keamanan siber menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi dan pengguna digital pernah menghadapi percobaan pengambilalihan akun melalui teknik rekayasa sosial (Verizon, 2024).
Ancaman lain yang meresahkan masyarakat adalah pinjaman online ilegal atau pinjol ilegal yang banyak dipromosikan melalui iklan media sosial. Korban sering kali tergiur proses cepat dan syarat mudah, tetapi kemudian menghadapi bunga tinggi serta penagihan yang disertai ancaman psikologis.
Dalam banyak kasus, aplikasi pinjol ilegal juga meminta akses ke data pribadi seperti daftar kontak di ponsel korban. Data tersebut kemudian digunakan untuk menekan korban melalui ancaman penyebaran informasi kepada keluarga atau rekan kerja apabila pinjaman tidak segera dilunasi.
Selain penipuan finansial, kejahatan siber juga semakin sering memanfaatkan manipulasi emosional melalui love scam atau penipuan romantis. Pelaku membangun hubungan emosional palsu dengan korban di media sosial sebelum akhirnya meminta uang dengan berbagai alasan darurat.
Fenomena ini sering kali terkait dengan jaringan sindikat internasional yang mengoperasikan pusat penipuan lintas negara. Dalam beberapa kasus, warga negara Indonesia bahkan dilaporkan dipaksa bekerja sebagai operator penipuan digital di luar negeri.
Ancaman lain yang berdampak besar pada organisasi adalah serangan ransomware yang menargetkan data penting perusahaan maupun institusi publik. Malware ini mengenkripsi data korban dan meminta tebusan agar akses terhadap data tersebut dapat dipulihkan.
Beberapa kelompok ransomware terbaru bahkan menggabungkan teknik enkripsi dengan wiper malware yang dapat menghapus data secara permanen. Hal ini membuat serangan ransomware tidak hanya mengunci sistem, tetapi juga berpotensi menghancurkan data secara total.
Perkembangan kecerdasan buatan juga memunculkan bentuk ancaman baru yaitu penipuan berbasis deepfake. Teknologi ini memungkinkan pelaku memanipulasi wajah atau suara seseorang sehingga terlihat sangat meyakinkan.
Deepfake dapat digunakan untuk menyebarkan video palsu tokoh publik, memanipulasi opini masyarakat, atau melakukan voice phishing dengan meniru suara orang yang dikenal korban. Berdasarkan contoh situasi di atas, dapat disimpulkan bahwa ancaman siber kini tidak hanya bergantung pada peretasan teknis, tetapi juga pada manipulasi informasi dan kepercayaan manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....