HIPMI Bali: Peternak Ayam Petelur Hadapi Permasalahan Kompleks

  • 19 Agt 2026 10:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Berbagai permasalahan kini dihadapi para peternak ayam petelur di Bali. Masalah itu di antaranya peternakan rakyat skala ‘hobi’ yang menggerus pasar peternak eksisting dan harga pakan yang kian melambung membuat margin peternak semakin tipis.

Ketua Bidang VII HIPMI Bali, Komang Tangkas Perwira Negara S.Kom, MMSI, S.E., Ak., menyampaikan, masalah lain adalah populasi ayam afkir menjadi berlebih pada saat ini menyebabkan ternak tidak maksimal berproduksi telur dan peternak merugi karena inefisiensi antara konsumsi pakan dengan produktifitas telur ayam afkir sehingga peternak semakin merugi. Imbauan mengafkirkan populasi ternak dianggap kurang tepat untuk saat ini.

“Karena peternak memang ingin mengafkirkan ayamnya namun pasar tidak mampu menyerap populasi ayam afkir. Permasalahannya ada pada serapan masyarakat yang kurang banyak,” katanya.

“Selain itu, dibutuhkan dorongan serapan misalkan ajakan untuk mengkonsumsi ayam afkir sebagai substitusi ayam broiler yang sedang melambung tinggi kepada masyarakat,” imbuhnya.

Tangkas PN menyebut, kondisi ini hanya bersifat sementara hingga populasi ayam afkir yang begitu banyak dan serentak mampu terserap pasar hingga kondisi stabil. Untuk pencegahan kejadian yang sama berikutnya, diharapkan agar manajemen produksi DOC ayam petelur dipolakan sedemikian rupa sehingga kondisi ayam afkir muncul secara bertahap dan merata sesuai daya serap pasar.

“Apabila secara populasi keseluruhan ayam petelur memang melebihi serapan pasar maka upaya peningkatan serapan pasar perlu dilakukan. Misalkan dengan membuat produk hilirisasi / pengolahan ayam petelur afkir yang mampu menyerap karkas ayam petelur seperti industri nugget mampu menyerap ayam broiler,” ucapnya.

Menyikapi permasalahan yang ada, Tangkas PN pun menyampaikan sejumlah solusi. Solusi yang ditawarkan, yakni membentuk Kementerian Peternakan dan pemisahan Dinas Peternakan serta Kesehatan Hewan dari Dinas Pertanian.

“Mengingat kompleksitas permasalahan yang ada di bidang peternakan dan sering kali membutuhkan respon yang cepat dan tepat untuk melindungi semua masyarakat pelaku usaha yang terlibat didalamnya,” katanya.

Tidak hanya itu, ia menyarankan adanya penurunan harga pakan degan melakukan pengendalian harga pakan melalui kontrol dan koordinasi antara pemerintah dengan pihak-pihak terkait melalui satgas pangan. Pemerintah juga diminta menstabilkan harga telur sesuai HAP (harga acuan pembelian) agar pembeli tidak membeli telur dibawah harga yang ditetapkan.

“Pemerintah dapat melalui SPPG melakukan kontrol harga beli untuk mendukung stabilisasi harga telur,” sebutnya.

“Stabilkan DOC (Day Old Chick) sesuai HAP dengan memperhitungkan GPS (Grand Parent Stock) secara akurat sesuai kebutuhan riil di lapangan. Untuk mendukung perhitungan riil dilapangan dibutuhkan data peternak yang akurat, sehingga siklus produksi dan afkir bisa dijaga untuk mendukung kestabilan harga telur dan ayam afkir,” lanjutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....