Belajar Kelola Keuangan sejak Dini, Bekal untuk Masa Depan
- 07 Agt 2026 14:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bagi kalangan anak muda yang belum memiliki penghasilan sendiri, mengelola keuangan menjadi persoalan yang sulit. Berbeda dengan pekerja profesional yang menerima gaji bulanan lengkap dengan berbagai tunjangan dan bonus, anak muda umumnya mengandalkan uang saku atau bekal dari orang tua. Nominal dan periodenya beragam, ada pemberian bekal harian, mingguan, hingga bulanan. Jadi, adakah strategi agar uang saku bisa jadi bekal masa depan?
Ketua Galeri Investasi Universitas Ngurah Rai, Dr. Ni Putu Yuliana Ria Sawitri, SE., M.M., menjelaskan kesalahan umum yang sering terjadi dalam pengelolaan uang saku. Pemikiran populis “pakai dulu, ada sisa baru ditabung” sudah terbentuk sejak lama. Kenyataannya, dana yang tersisa di akhir bulan sering kali bernilai nol karena banyak pengeluaran tak terduga, promo belanja, atau habis untuk mengikuti gaya hidup seperti berkumpul di kedai kopi.
Hasil survey yang dilakukan oleh GoodStats pada 2024 menunjukkan tantangan finansial generasi muda. Penelitian ini menunjukan hanya 30,1% responden memiliki tabungan, sementara 69,9% belum memilikinya. Faktor utamanya terletak pada pengeluaran impulsif dan pendapatan terbatas.
| Baca juga: Implementasi IKPA dalam Pengelolaan APBN |
“Prinsip dasar yang perlu ditanamkan adalah pay yourself first. Begitu uang saku diterima, tentukan persentase yang wajib disisihkan terlebih dahulu untuk disimpan atau investasi sebelum digunakan untuk kebutuhan operasional harian.” Tegas Ria saat diwawancara RRI.CO.ID pada Senin 3 Agustus 2026.
Alokasi awal yang disarankan untuk tujuan investasi ada pada rentang 10% hingga 20% dari total uang saku. Sederhananya jika menerima uang saku bulanan sebesar Rp2.000.000, maka Rp200.000 atau 10% langsung dipindahkan ke rekening investasi di hari pertama. 20% atau Rp 400.000 untuk Dana Darurat, Sisanya, yakni Rp1.400.000, baru diatur untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan hiburan sebagai bentuk self-reward.
Investasi merupakan instrumen finansial jangka panjang. Biasanya, investasi dilakukan untuk waktu dua tahun bahkan lebih, dengan tujuan memperoleh hasil yang lebih optimal. Berbeda dengan tabungan biasa yang dapat diambil sewaktu-waktu, kunci berhasilnya sebuah investasi terletak pada komitmen dan kedisiplinan.
Menurut Ria, saat ini banyak anak muda terjebak pada janji finansial yang sering dilanggar sendiri akibat godaan diskon atau godaan gaya hidup. Menjadi hal mutlak untuk mengunci dana investasi di awal, secara konsisten setiap kali uang saku diterima. Cara ini dapat dibentuk perlahan kondisi keuangan tetap sehat.
Bagi mahasiswa atau pemula yang mengandalkan uang saku, instrumen reksadana memiliki profil risiko rendah fleksibel, serta dapat dimulai dengan modal yang relatif kecil. Anda dapat memulai mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000. Jika pemahaman keuangan sudah memadai, pasar modal atau saham bisa menjadi tempat untuk berinvestasi dengan peluang yang lebih besar.
Investasi saat ini semakin mudah dengan adanya model distribusi uang saku dari orang tua melalui transfer bank menuju dompet digital milik anak. Kemudahan teknologi ini sebaiknya dimanfaatkan secara bijak. Integrasi antara dompet digital dan aplikasi investasi berbasis ponsel memudahkan proses pembelian unit reksadana secara otomatis dan transparan, bahkan dapat dipantau bersama oleh orang tua sebagai bentuk akuntabilitas.
Tujuan utama investasi agar anak muda memiliki cadangan finansial untuk 10 hingga 20 tahun mendatang. Selain itu, investasi juga menjadi cara untuk menjaga nilai aset dari dampak inflasi. Seiring berjalannya waktu, kenaikan harga barang dan jasa akan menurunkan daya beli dari nominal uang tunai yang disimpan begitu saja.
Berapa pun besarnya uang saku yang diterima, kuncinya terletak pada konsistensi menabung. Karena memiliki kebiasaan menabung sejak muda dan literasi keuangan yang baik, akan menjadi jaring pengaman keuangan di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....