Tak Sebatas Tambah SID, IDX Bali Fokus Edukasi Investor Ritel
- 04 Agt 2026 14:36 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki pekerjaan rumah (PR) dalam mengedukasi investor ritel. Edukasi itu guna mengubah pola pikir kaya raya instan melalui pasar modal atau instrumen saham.
Istilah "cacing-cacing, naga-naga" masih menjadi fenomena yang membuat banyak investor ritel boncos di dunia saham. Selain itu, kebiasaan FOMO (Fear of Missing Out) juga menjadi batu sandungan bagi investor ritel Tanah Air.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) / IDX Bali, I Gusti Agus Andiyasa mengakui, pihaknya tidak hanya fokus pada upaya mengerek angka SID (Single Investor Identification). IDX Bali menganggap, edukasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman investor ritel.
"Ketika masuk ke pasar modal harus melakukan analisa, sebelum melakukan keputusan berinvestasi," katanya kepada wartawan di Denpasar, Jumat 31 Juli 2026.
Sebagai regulator, BEI disebut memiliki tugas berjenjang dalam menarik minat investor. Langkah yang perlu dilakukan mulai dari mengenalkan hingga menyarankan investor untuk tetap belajar dan memantau seluruh keputusan investasinya.
"Sehingga ke depannya portofolio para investor tetap terjaga dan tetap tumbuh," ujarnya.
Berbicara pertumbuhan jumlah investor, Agus Andiyasa menyebut, pihaknya menargetkan peningkatan 20 persen tiap tahunnya. "Kalau lebih ya syukur. Kalau kita lihat di setiap market mengalami penurunan cukup dalam, masyarakat memanfaatkan peluang yang ada," katanya.
"Kita lihat jumlah investor di pasar modal di Indonesia itu hampir menyentuh 30 juta dengan pertumbuhan 9 juta investor. Dan di Bali jumlah investor kita sudah menyentuh 420 ribu investor, kurang lebih 10 persen dari jumlah penduduk," imbuhnya.
Agus Andiyasa menyampaikan, komposisi investor didominasi usia di bawah 30 tahun. Investor usia muda di Indonesia mencapai 50 persen lebih.
Bahkan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) disebut memiliki ketertarikan luar biasa untuk berinvestasi di pasar modal. Hal itu dibuktikan dari banyaknya permohonan edukasi ihwal pasar modal dari beberapa SMA di Pulau Dewata.
"Mereka sangat tertarik, dan tentunya modal berinvestasi itu kan diawali dengan kenal, lalu mereka coba. Apalagi sekarang buka rekening tidak perlu uang yang banyak," katanya.
"Dan kita harapkan ke depannya efek dominonya tidak dirasakan sekarang, tetapi saat mereka bekerja dan memiliki pendapatan lebih banyak, artinya mereka bisa lebih besar modalnya untuk berinvestasi di pasar modal," sambung Agus Andiyasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....