Tak Sekadar Bentuk, Ini yang Membuat Sesuatu Menjadi Sakral

  • 22 Sep 2026 15:04 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar edisi 22 September 2026 menghadirkan pembahasan mendalam tentang perbedaan makna sakral dan profan dalam kehidupan masyarakat Bali.
  • Makna sakral suatu benda tidak hanya ditentukan oleh bentuknya, tetapi juga dipengaruhi oleh proses, keyakinan, dan fungsi yang menyertainya dalam konteks budaya Bali.
  • Pemaknaan terhadap suatu benda dapat berbeda sesuai konteksnya, sehingga benda yang sama dapat dianggap sakral oleh satu pihak dan profan oleh pihak lain.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar edisi Selasa, 22 September 2026, membahas makna sakral dan profan dalam kehidupan masyarakat Bali bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer. Perbincangan tersebut mengajak pendengar memahami bahwa sesuatu yang dianggap sakral tidak hanya dilihat dari bentuknya, tetapi juga melalui proses, keyakinan, dan fungsi yang menyertainya.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, terdapat berbagai bentuk benda dan karya seni yang memiliki nilai berbeda berdasarkan penggunaannya. “Ada yang ngerasain sakral, ada yang ngerasain profan,” tutur Tibah, menjelaskan bahwa pemaknaan terhadap suatu benda dapat berbeda sesuai konteksnya.

Sebuah benda yang digunakan untuk kepentingan sakral umumnya melalui tahapan tertentu sebelum ditempatkan dalam konteks keagamaan. Proses tersebut dapat mencakup pemilihan bahan, penentuan hari baik, pembuatan, hingga berbagai prosesi penyucian sesuai dengan tradisi yang berlaku.

Barong menjadi salah satu contoh yang dibahas dalam perbincangan tersebut karena tidak semata-mata dipandang sebagai karya seni. “Misalnya sebuah barong, prosesnya misalnya pemelaspasan, pemasupatian, nyambleh dan sebagainya,” ucap Kejoer.

Rangkaian prosesi tersebut menjadi bagian yang membedakan antara barong yang digunakan dalam konteks sakral dengan karya serupa yang dibuat sebagai kebutuhan seni, hiburan, dekorasi, atau kepentingan lainnya. Dengan demikian, bentuk fisik yang menyerupai benda sakral tidak serta-merta menjadikan benda tersebut memiliki status sakral.

Pembahasan juga menyinggung keberadaan benda atau perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan keagamaan, termasuk umbul-umbul dan berbagai sarana upacara. Status sakralnya berkaitan dengan fungsi, tempat, prosesi, serta keyakinan masyarakat yang menyertainya.

Menurut Tibah dan Kejoer, proses menjadi sakral merupakan hal penting untuk dipahami agar masyarakat tidak hanya melihat sesuatu berdasarkan bentuk luarnya. “Untuk menjadikan sesuatu benar yang dipanggil sakral, perlu proses,” ungkap Tibah.

Selain benda, tempat dan orang yang terlibat dalam prosesi tertentu juga dapat menjalani proses penyucian sesuai dengan konteks ritualnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesakralan dalam tradisi Bali memiliki keterkaitan dengan rangkaian tata cara dan keyakinan masyarakat.

Perbincangan juga menekankan bahwa rasa sakral tidak dapat dilepaskan dari keyakinan orang yang menjalankannya. “Itu kan masalah rasa, rasa keyakinan,” kata Kejoer, menjadi salah satu penjelasan mengenai bagaimana masyarakat memaknai sesuatu yang dianggap memiliki nilai sakral.

Di sisi lain, terdapat benda yang memiliki bentuk atau simbol menyerupai sarana sakral, tetapi digunakan untuk kebutuhan profan atau kehidupan sehari-hari. Perbedaan fungsi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dipahami agar tidak terjadi kekeliruan dalam memaknai simbol dan benda budaya.

Pemahaman mengenai sakral dan profan juga berkaitan dengan keberadaan suatu benda setelah menjalani prosesi tertentu. Ketika fungsi dan kedudukannya dalam konteks sakral berubah atau tidak lagi digunakan sesuai tujuan awal, maka pemaknaannya dalam masyarakat juga dapat mengalami perubahan.

Karena itu, masyarakat diajak tidak hanya memperhatikan bentuk suatu benda, tetapi juga memahami latar belakang, proses, fungsi, dan keyakinan yang menyertainya. Pemahaman tersebut penting untuk menjaga penghormatan terhadap tradisi sekaligus membedakan penggunaan benda dalam konteks sakral dan profan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....