Saat Keinginan Tak Terwujud, Ada Hikmah yang Perlu Dipahami

  • 21 Sep 2026 11:46 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Surya Puja mengajak umat untuk menyikapi harapan, kegagalan, dan kenyataan hidup secara lebih bijaksana dan arif.
  • Penyuluh Agama Hindu Diah Widya Utami menyampaikan pesan bahwa tidak semua yang diinginkan dalam kehidupan merupakan pilihan terbaik melalui program Surya Puja.
  • Manusia memiliki harapan dan keinginan yang mendorong untuk belajar, bekerja, dan berdoa, namun perjalanan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana yang telah disusun.

RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Diah Widya Utami, mengajak umat memahami bahwa tidak semua hal yang diinginkan dalam kehidupan selalu menjadi pilihan terbaik. Pesan tersebut disampaikan dalam program Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Minggu, 20 September 2026, dengan tema “Tidak Semua yang Diinginkan Adalah yang Terbaik” yang mengajak pendengar menyikapi harapan, kegagalan, dan kenyataan hidup secara lebih bijaksana.

Diah mengatakan manusia memiliki berbagai harapan dan keinginan yang menjadi dorongan untuk belajar, bekerja, berusaha, serta berdoa. “Namun perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang telah kita susun,” ujarnya.

Menurutnya, kegagalan dalam memperoleh pekerjaan, kesempatan, maupun rencana yang telah dipersiapkan dapat menimbulkan kekecewaan karena manusia merasa kehilangan sesuatu yang dianggap penting. Padahal, manusia hanya mampu melihat sebagian kecil dari perjalanan kehidupannya dan belum tentu mengetahui dampak dari setiap peristiwa yang terjadi.

“Sering kali kita baru memahami makna dari sebuah kejadian setelah waktu berlalu dan memberikan sudut pandang yang lebih luas,” kata Diah. Ia menjelaskan, sesuatu yang awalnya dianggap sebagai kehilangan dapat menjadi jalan menuju kesempatan lain, sementara sesuatu yang sangat diinginkan justru terkadang membawa persoalan baru setelah berhasil diperoleh.

Diah menjelaskan ajaran karmapala dapat menjadi salah satu landasan untuk memahami mengapa keinginan tidak selalu terwujud sesuai harapan. “Karmapala mengajarkan hukum sebab akibat, yaitu bahwa setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan menghasilkan konsekuensi yang sesuai dengan perbuatannya,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh keinginan, tetapi juga oleh tindakan yang dilakukan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Karena itu, ketika hasil yang diharapkan belum tercapai, seseorang perlu menghargai proses dan memahami bahwa masih terdapat pembelajaran yang harus dijalani.

“Melalui pemahaman terhadap ajaran karmapala, kita belajar untuk menghargai proses,” ujar Diah. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih bertanggung jawab terhadap setiap tindakan serta menghadapi berbagai peristiwa kehidupan dengan lebih tenang.

Selain karmapala, Diah juga menjelaskan pentingnya ajaran Tri Kaya Parisudha dalam menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan. Ajaran tersebut mengarahkan manusia untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap berada dalam nilai-nilai kebaikan.

“Tri Kaya Parisudha berarti tiga perilaku yang harus disucikan, yaitu manacika atau berpikir yang baik, wacika atau berkata yang baik, dan kayika atau berbuat yang baik,” katanya. Ia menambahkan, kualitas diri seseorang tidak hanya terlihat ketika segala sesuatu berjalan sesuai harapan, tetapi juga ketika menghadapi keadaan yang mengecewakan.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut kemudian mengaitkan pembahasan dengan Catur Purusa Artha yang terdiri atas Dharma, Artha, Kama, dan Moksa sebagai pedoman menjalani kehidupan secara seimbang. Dalam konteks keinginan, Kama bukan sesuatu yang harus dihilangkan, tetapi perlu diarahkan dan dikendalikan agar berjalan selaras dengan Dharma.

“Keinginan merupakan bagian dari kehidupan manusia,” ujar Diah. Menurutnya, keinginan dapat mendorong seseorang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik tetapi keinginan yang tidak terkendali dapat menimbulkan ketidakpuasan yang terus berulang.

Ia memberikan gambaran bahwa setelah seseorang memperoleh sesuatu yang telah lama diinginkan, sering muncul keinginan baru sehingga perhatian kembali tertuju pada hal yang belum dimiliki. Kondisi tersebut membuat seseorang berisiko melupakan rasa syukur terhadap apa yang telah diperoleh.

Diah juga mengajak pendengar memahami makna melepaskan sebagai bagian dari proses menjalani kehidupan. “Melepaskan bukan berarti menyerah terhadap keadaan, berhenti berusaha, dan kehilangan harapan,” tegasnya.

Menurutnya, melepaskan merupakan bentuk kedewasaan dalam menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan manusia. Ia mengibaratkan keinginan seperti pasir di telapak tangan yang justru semakin banyak terlepas apabila digenggam terlalu erat.

“Sebagai manusia, kita tentu memiliki harapan, rencana, dan impian, tetapi kehidupan mengajarkan bahwa ada saat di mana kita perlu menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita,” jelas Diah. Dengan menerima kenyataan secara bijaksana, seseorang dapat memberikan ruang bagi dirinya untuk melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang.

Diah juga mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Menurutnya, manusia hanya mengetahui apa yang diinginkan saat ini, sementara berbagai peristiwa yang akan terjadi pada masa depan belum dapat diketahui.

“Apa yang tidak diberikan kepada kita belum tentu merupakan penolakan, apa yang tertunda belum tentu merupakan kegagalan, dan apa yang telah direnggut dari depan kita belum tentu merupakan kerugian,” ungkapnya. Waktu, kata Diah, sering kali menunjukkan adanya hikmah di balik berbagai peristiwa yang sebelumnya sulit dipahami.

Pada bagian akhir, Diah mengajak umat tetap bersungguh-sungguh dalam berusaha, menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta menjalani kehidupan sesuai Dharma. “Sebenarnya tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan memperoleh semua yang diinginkan, melainkan oleh kemampuan menerima, memahami, dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. “Terus berusaha dengan sungguh-sungguh, menjalani kehidupan sesuai Dharma, serta senantiasa mempercayai bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu memberikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan hidup kita,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....