Memahami Tingkatan Banten Anggara Kasih Sesuai Sastra Suci
- 16 Agt 2026 21:54 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Penggunaan sarana upakara atau banten dalam persembahyangan Anggara Kasih, harus tetap membedah dan merujuk pada petunjuk sastra suci Lontar Sundarigama, agar memberikan kedamaian lahir dan batin. Pedoman tata cara persembahyangan ini disampaikan secara rinci Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kementerian Agama ( Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si.,dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Denpasar pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Suana menjelaskan dalam naskah kuno tersebut tersurat, rumusan "Pakertinia aturakna wangi-wangi" yang menjadikan wangi-wangian, bunga segar, serta dupa sebagai unsur sarana paling mendasar. Keberadaan sarana sederhana ini wajib disiapkan oleh setiap rumah tangga, untuk menjaga kesucian di Palinggih Kemulan maupun pekarangan rumah.
Suana memaparkan tingkatan banten paling dasar yang dapat dihaturkan masyarakat di rumah. "Bagi umat yang melangsungkan persembahyangan harian, sarana minimal yang wajib disiapkan meliputi Canang Sari beraroma harum, Dupa Wangi, Pabersihan, serta Nasi Sode atau Nasi Ajuman sebagai simbol persembahan pangan," ujar Suana.
Untuk tingkatan menengah atau nista-madya, Suana mengatakan rangkaian upakara dapat dilengkapi dengan Banten Pejati, sebagai simbol kesaksian tulus serta Banten Prayascita, guna melenyapkan noda batin. Kelengkapan sarana upakara ini, biasanya dihaturkan pada puncak hari suci, atau ketika Anggara Kasih bertepatan dengan hari besar keagamaan lainnya.
Apabila Anggara Kasih jatuh bertepatan dengan Hari Tilem, masyarakat disarankan menambah sarana pembersihan alam bawah, berupa Segehan Pancawarna atau Segehan Cacalan. Sesajen bawah ini dihaturkan di pintu keluar pekarangan rumah, untuk menetralkan kekuatan negatif alam, agar berubah menjadi energi pelindung yang harmonis.
Suana menegaskan bahwa nilai utama dari sebuah persembahan, tidak diukur dari kemewahan banten, melainkan ketulusan hati umat saat melangsungkan ritual. "Banten Canang Sari dengan sirih, kapur, dan jambe merupakan simbol ketulusan batin, sedangkan menyalakan Dupa Wangi berfungsi sebagai pengantar mantra sekaligus peleburan kegelapan ego," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....