Sekar Madya, Kidung Suci yang Menjaga Warisan Hindu Bali
- 06 Agt 2026 11:30 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Sekar Madya adalah bentuk tembang tradisional Bali yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan keagamaan dan pelestarian budaya masyarakat Hindu Bali.
- Sekar Madya menggunakan metrum khusus yang terdiri dari bagian pengawit, penawak, pengawak, dan pengecet serta umumnya menggunakan bahasa Jawa Tengahan yang ditemukan dalam lontar-lontar klasik.
- Kidung berkembang di Bali sejak abad ke-16 hingga ke-19 dan diwariskan melalui karya sastra serta tradisi lisan yang tetap lestari hingga kini, sering diiringi gamelan dengan laras pelog maupun selendro.
RRI.CO.ID, Denpasar — Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Putu Arcana, menjelaskan bahwa Sekar Madya atau kidung merupakan salah satu bentuk tembang tradisional Bali yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan keagamaan dan pelestarian budaya. Menurutnya, Sekar Madya menggunakan metrum khusus yang tersusun dari bagian pengawit, penawak, pengawak, dan pengecet serta umumnya menggunakan bahasa Jawa Tengahan yang banyak ditemukan dalam lontar-lontar klasik.
Dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Rabu, 5 Agustus 2026, ia menerangkan bahwa kidung berkembang di Bali sejak abad ke-16 hingga ke-19 dan diwariskan melalui berbagai karya sastra serta tradisi lisan yang tetap lestari hingga kini. Selain dinyanyikan secara berkelompok, kidung juga diiringi gamelan dengan laras pelog maupun selendro sehingga menghasilkan harmoni yang menyejukkan hati para pendengarnya.
"Sekar Madya atau kidung bukan sekadar nyanyian, melainkan warisan sastra dan spiritual yang memiliki aturan, makna, serta fungsi dalam kehidupan umat Hindu," ujar Arcana. Ia menambahkan bahwa keindahan kidung lahir dari keselarasan nada, kekompakan penyanyi, dan pemahaman terhadap makna setiap tembang yang dilantunkan.
Dalam siaran tersebut dijelaskan pula bahwa bunyi dasar "ding" dan "dong" dalam kidung tidak hanya menjadi unsur musikal, tetapi juga mengandung simbol-simbol ketuhanan sesuai ajaran Hindu Bali. Bunyi tersebut dikaitkan dengan konsep penciptaan, pemeliharaan, dan perjalanan manusia dalam mencari kebenaran menuju kehidupan yang lebih baik.
"Kidung menjadi media untuk meningkatkan sraddha dan bhakti sekaligus sarana penyebarluasan ajaran agama Hindu," jelasnya. Ia menyebutkan bahwa setiap lantunan kidung merupakan perpaduan antara seni, doa, dan filsafat yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Lebih lanjut, Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut menjelaskan bahwa kidung memiliki fungsi utama sebagai sarana persembahyangan, persembahan suci, hiburan yang bernilai religius, hingga media pembinaan moral dan spiritual umat. Dalam pelaksanaan Panca Yadnya, kidung menjadi bagian dari Panca Gita yang mengiringi berbagai upacara keagamaan di Bali.
"Melalui kidung, umat diajak menuju kesejahteraan lahir batin, memperkuat iman, serta mendekatkan diri kepada Tuhan," kata Arcana. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kidung tetap relevan sebagai pedoman kehidupan di tengah perkembangan zaman.
Pada akhir penyuluhan, Ida Bagus Putu Arcana memperagakan salah satu contoh kidung Dewa Yadnya, yakni Kidung Kawitan Margasari, sebagai gambaran penerapan Sekar Madya dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu. "Semoga masyarakat semakin memahami pengertian Sekar Madya dan ikut melestarikan tradisi kidung sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....