Empat Sikap yang Diam-Diam Menghabiskan Kebahagiaan Hidup

  • 23 Jul 2026 14:37 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Penyuluh Agama Hindu I Gusti Agung Istri Purwati mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri melalui siaran Surya Puja Pro 4 RRI Denpasar dengan tema Empat Hal yang Dapat Menyia-nyiakan Kehidupan Kita pada Kamis, 23 Juli 2026.
  • Kebahagiaan dan penderitaan merupakan bagian dari hukum Rwa Bhineda, sehingga cara seseorang memandang setiap persoalan akan menentukan kualitas hidupnya.
  • Akar penyelesaian persoalan sering kali berada dalam diri sendiri melalui pengendalian pikiran, introspeksi, dan perubahan sikap, bukan dalam mencari jawaban di luar diri.

RRI.CO.ID, Denpasar – Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati, mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri melalui siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, dengan tema Empat Hal yang Dapat Menyia-nyiakan Kehidupan Kita, Kamis, 23 Juli 2026. Menurutnya, kebahagiaan dan penderitaan merupakan bagian dari hukum Rwa Bhineda, sehingga cara seseorang memandang setiap persoalan akan menentukan kualitas hidupnya.

Purwati menjelaskan, banyak orang justru menghabiskan waktu dan energi karena sibuk mencari jawaban di luar dirinya. Padahal, akar penyelesaian persoalan sering kali berada dalam diri sendiri melalui pengendalian pikiran, introspeksi, dan perubahan sikap.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung itu menyebutkan empat kebiasaan yang membuat hidup menjadi sia-sia, yakni rasa khawatir berlebihan, kebiasaan mengeluh, menyalahkan orang lain, dan gemar membandingkan diri dengan orang lain. Keempat sikap tersebut dinilai memicu stres, menguras energi, serta menjauhkan seseorang dari kebahagiaan sejati.

"Janganlah kita merisaukan sesuatu yang belum tentu terjadi, karena kekhawatiran hanya menghabiskan energi tanpa menyelesaikan masalah," ujar Purwati. Ia mengisahkan percakapan Sri Kresna dengan Yudistira yang mengajarkan bahwa setiap persoalan memiliki proses penyelesaian dan pada waktunya akan berakhir.

Selain rasa khawatir, kebiasaan mengeluh juga dinilai melemahkan semangat hidup. Purwati mencontohkan kisah seorang anak yang selalu mengeluh hingga kehilangan motivasi belajar, sehingga akhirnya mengalami kegagalan di sekolah.

"Mengeluh tidak pernah menyelesaikan masalah, justru melemahkan jiwa dan menjauhkan kita dari solusi," katanya. Ia menambahkan bahwa seseorang akan lebih mudah bangkit apabila mampu mengubah keluhan menjadi motivasi untuk terus berusaha.

Purwati juga mengingatkan agar masyarakat tidak terbiasa mencari kambing hitam ketika menghadapi persoalan. Menurutnya, sikap menyalahkan orang lain hanya menutup kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun komunikasi yang lebih baik.

"Daripada sibuk menyalahkan orang lain, lebih baik kita memperbaiki diri dan membangun komunikasi yang tulus," tegasnya. Ia mencontohkan kisah seorang ibu yang menyadari pentingnya komunikasi dengan suami setelah lebih dulu mengeluhkan sikap pasangannya kepada banyak orang.

Pada bagian akhir, Purwati mengajak masyarakat menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain karena setiap individu memiliki karma, tujuan hidup, serta jalan kehidupan yang berbeda. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur, ketenangan batin, dan kemampuan menghargai apa yang telah dimiliki.

"Kebahagiaan tidak berada pada apa yang dimiliki orang lain, melainkan pada rasa syukur atas anugerah yang kita miliki sendiri," pungkas Purwati. Ia berharap umat Hindu mampu mengendalikan pikiran, memperkuat rasa syukur, dan menjalani kehidupan dengan lebih damai serta bijaksana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....