Telur Emas dan Keserakahan: Satua Bali Ini Menampar Cara Kita Mengejar Rezeki
- 21 Mei 2026 13:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran agama Hindu di Pro 4 RRI Denpasar menghadirkan kisah tradisional Bali “Siap Sangkur Mataluh Emas” yang dibawakan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, I Gusti Ayu Twin Jayantari, Kamis, 21 Mei 2026. Dalam siaran tersebut, pendengar diajak memahami bahwa setiap tindakan manusia akan berbuah sesuai dengan apa yang diperbuat dalam kehidupan sehari-hari.
Twin Jayantari mengatakan, “Cerita ini bukan semata hiburan, tetapi cermin kehidupan yang diwariskan leluhur untuk menuntun perilaku manusia.” Ia menjelaskan, kisah ayam bertelur emas menggambarkan pertarungan batin antara rasa syukur dan keserakahan yang sering dialami manusia.
Dalam cerita itu, tokoh Ni Luh Lancah awalnya hidup sederhana dan tekun bekerja bersama I Pagul hingga menemukan ayam yang mampu bertelur emas. Namun, perubahan sikap mulai muncul ketika keinginan untuk memperoleh kekayaan lebih cepat menguasai pikiran hingga akhirnya menimbulkan penderitaan.
“Ketika seseorang tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, maka pikiran akan kehilangan kejernihannya,” ujar Twin Jayantari. Ia menambahkan bahwa keserakahan yang dipaksakan justru akan menghancurkan berkah yang sudah dimiliki.
Menurutnya, kisah tersebut mengandung ajaran Hindu tentang hukum karmapala, yakni setiap perbuatan akan menghasilkan akibat sesuai tindakan yang dilakukan. Ia menilai rezeki yang datang perlahan tetapi dijalani dengan kesabaran akan membawa kebahagiaan yang lebih bermakna dibandingkan hasil instan yang diperoleh dengan cara tergesa-gesa.
“Rezeki yang datang perlahan justru lebih berkah karena memberi ruang untuk belajar bersyukur dan mengolah diri,” katanya. Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan batin agar tidak dikuasai ambisi berlebihan.
Di akhir siaran, enyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung itu mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali perjalanan hidup masing-masing serta tidak mudah tergoda mengambil jalan pintas demi mencapai keberhasilan. “Kebahagiaan bukan terletak pada seberapa cepat kita mendapatkan sesuatu, tetapi seberapa bijak kita menjalaninya,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....