Ini Cara Mudah untuk Mensyukuri dan Menghargai Hidup

  • 10 Jul 2026 14:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Banyak hal yang membuat anda sulit untuk mensyukuri hidup. Kesulitan ekonomi, tidak puas dengan pekerjaan, atasan yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, hingga kehilangan pasangan.

Beragam penyebab dapat membuat anda merasa serba kekurangan. Dari laman Times, Psikolog Klinis Karen Stewart di Los Angeles menyatakan teknik pengurangan mental (mental subtraction) menjadi cara baru untuk penyadaran terhadap kondisi hidup.

Bukan berfokus pada rasa kehilangan, justru cara ini dapat membantu anda menemukan kembali nilai dari sebuah hubungan, pekerjaan, atau apa pun yang sedang membuat anda tidak puas.

Pengurangan mental akan bekerja ketika anda belajar untuk membayangkan kehilangan sesuatu, tentu saja merupakan hal penting, pada hidup anda. Jika anda mengeluh tentang pekerjaan yang anda miliki saat ini, cobalah pikirkan jika anda tidak lagi harus datang untuk bekerja.

Cara ini mampu memutus proses psikologis jangka panjang yang disebut adaptasi hedonis. Minkyung Koo, seorang asisten profesor pemasaran di James & Gail Ellis School of Business Leadership, Universitas New Mexico menyatakan bahwa manusia secara alami mampu terbiasa dengan peristiwa-peristiwa hidup, entah kondisinya baik maupun buruk.

Adaptasi pengurangan mental ini sangat berguna setelah kita mengalami pengalaman buruk, karena rasa sakitnya akan memudar seiring berjalannya waktu. Justru, peristiwa positif juga bisa menjadi hal yang biasa saja.

Hal baik dan positif tidak lagi memberi kita kebahagiaan sebesar dulu. Terkadang manusia mengalami kemajuan ketika menghadapi situasi sulit dan menjadi sebuah tantangan.

Rasa syukur terkadang terkikis dengan hadirnya situasi menyebalkan disekitar anda. Kondisi yang kurang menyenangkan seperti bertengkar dengan pasangan, tidak puas dengan penghasilan, atau permasalahan dengan rekan kerja membuat anda terganggu berhari-hari. Untuk mengembalikan penghargaan terhadap hidup, Karen Stewart justru menyarankan anda untuk mempertanyakan lagi keluhan anda dengan pertanyaan "bagaimana jika" atau “what if”.

Anda dapat mengajukan pertanyaan seperti, “Bagaimana jika anda tidak memiliki pasangan?”, “Bagaimana jika anda berganti pekerjaan?”, atau “kalau saya menjadi jobless, hidup saya seperti apa?”. Dari pertanyaan tersebut, menurut temuan Stewart,biasanya adalah sesuatu yang sebenarnya sangat tidak ingin dihilangkan.

Terdapat cara lain seperti menulis jurnal keseharian, untuk menyadarkan kita tentang rasa syukur. Namun menurut Suzie White dari Universitas Cincinnati, banyak orang menuliskan rasa syukur sebagai daftar hal-hal yang disyukuri saja.

Terdapat temuan lain yang menyatakan bahwa menulis rasa syukur justru menumpulkan rasa syukur. Kekuatan untuk terhubung dengan rasa syukur tidak lagi memiliki kepuasan tersendiri terhadap hidup.

Pandangan lainnya juga menyebutkan bahwa bersyukur bukan berarti menutup mata dari realitas yang buruk. Seorang Psikolog, Justin Puder, P.hD dalam Wondermind pun mengakui bahwa proses syukur terdiri dari dua langkah, yaitu akui dan rasakan emosi negative atau tidak nyaman tanpa menghakimi, baru kemudian cari hal yang bisa disyukuri, meski hanya hal-hal kecil.

Cara-cara ini akan membantu anda untuk tetap menghargai indahnya kehidupan. Selamat mencoba!

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....