Matsarya, Musuh dalam Diri yang Perlu Dikendalikan
- 15 Jun 2026 14:20 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar : Perasaan iri sering dianggap sebagai hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali, rasa iri dapat mengganggu ketenangan batin dan merusak hubungan dengan orang lain. Dalam ajaran Hindu, sifat ini dikenal sebagai Matsarya, salah satu dari enam musuh dalam diri manusia yang perlu dikendalikan.
Dalam Acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 9 Juni 2026, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, menjelaskan bahwa matsarya merupakan bagian dari konsep Sad Ripu, yakni enam sifat negatif yang ada dalam diri manusia. “Iri hati itu disebut matsarya. Dalam agama Hindu, matsarya termasuk salah satu musuh dalam diri yang harus kita kendalikan,” ujarnya.
Menurutnya, rasa iri biasanya muncul ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Di era media sosial, kondisi ini semakin mudah terjadi karena masyarakat setiap hari melihat berbagai pencapaian, kemewahan, maupun keberhasilan yang ditampilkan orang lain di ruang digital.
Ketika matsarya menguasai pikiran, seseorang cenderung merasa kurang terhadap apa yang dimiliki. Ia menjadi sulit bersyukur dan lebih fokus pada keberhasilan orang lain daripada melihat potensi serta pencapaian dirinya sendiri. Akibatnya, perasaan tidak puas, stres, hingga rendah diri dapat muncul secara perlahan.
Putu Sukma menilai bahwa rasa iri sebenarnya bisa diubah menjadi energi yang positif. Daripada merasa tersaingi, seseorang dapat menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Dengan cara itu, seseorang tetap dapat berkembang tanpa harus terjebak dalam perasaan negatif.
Dalam ajaran Hindu, pengendalian matsarya sejalan dengan nilai Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Ketika seseorang mampu menjaga pikirannya dari iri hati, maka ucapan dan tindakannya juga akan lebih positif terhadap sesama.
Ia menambahkan bahwa rasa iri sering berawal dari kurangnya rasa syukur atas kehidupan yang sedang dijalani. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk lebih mengenali diri sendiri dan memahami bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Kesuksesan tidak selalu datang dalam waktu yang sama dan tidak harus memiliki bentuk yang serupa.
Di tengah budaya perbandingan yang semakin kuat, terutama melalui media sosial, ajaran tentang matsarya menjadi pengingat bahwa musuh terbesar sering kali bukan berasal dari luar diri, melainkan dari dalam diri sendiri. Dengan mengendalikan rasa iri dan memperkuat rasa syukur, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, harmonis, dan bahagia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....