Ahimsa Karma, Jalan menuju Keseimbangan Diri dan Kedamaian Hidup
- 10 Jul 2026 05:53 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Ahimsa Karma adalah penerapan prinsip non-kekerasan sadar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan untuk menghasilkan karma positif.
- Penerapan Ahimsa dimulai dari pengendalian pikiran (manacika), diwujudkan melalui ucapan (wacika), dan tindakan nyata (kayika) yang harus berjalan selaras untuk mencapai keseimbangan batin.
- Ahimsa merupakan salah satu dari Panca Yama Brata bersama Satya, Asteya, Brahmacarya, dan Aparigraha sebagai pedoman pengendalian diri umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
RRI.CO.ID, Denpasar — Program Surya Puja RRI Pro 4 Suara Budaya Bali menghadirkan penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Kadek Ariani, yang mengulas tema "Ahimsa Karma Pedoman Hidup untuk Mencapai Keseimbangan Diri". Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Ahimsa tidak hanya dimaknai sebagai larangan menyakiti makhluk hidup, tetapi juga menjadi landasan berpikir, berkata, dan bertindak yang melahirkan karma baik.
Ida Kadek Ariani menjelaskan bahwa Ahimsa Karma merupakan penerapan prinsip non-kekerasan yang dilakukan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari. "Ahimsa tidak berhenti sebagai konsep pasif tentang tidak menyakiti, tetapi menjadi tindakan nyata yang membentuk karma dan ketenangan batin," ujarnya.
Menurutnya, setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan yang dilandasi kasih sayang akan menghasilkan karma positif sekaligus menciptakan keharmonisan dengan sesama, alam, dan diri sendiri. Sebaliknya, kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, verbal, maupun mental, dapat mengganggu keseimbangan pribadi maupun kehidupan secara menyeluruh.
Ia menambahkan bahwa Ahimsa merupakan salah satu bagian dari Panca Yama Brata, bersama Satya, Asteya, Brahmacarya, dan Aparigraha sebagai pedoman pengendalian diri umat Hindu. "Ahimsa adalah dasar kehidupan yang harmonis karena mengajarkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa membedakan," katanya.
Dalam siaran tersebut juga dijelaskan bahwa penerapan Ahimsa dimulai dari pengendalian pikiran atau manacika, kemudian diwujudkan melalui ucapan atau wacika, serta tindakan nyata atau kayika. Ketiga unsur tersebut harus berjalan selaras agar seseorang mampu menjaga kedamaian batin sekaligus membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.
Ida Kadek Ariani mengingatkan bahwa sumber kekerasan terbesar sering kali berasal dari pikiran sendiri, seperti kebencian, kecemasan, atau kebiasaan menghakimi diri secara berlebihan. "Keseimbangan diri tidak akan tercapai jika kita terus menyakiti diri sendiri melalui pikiran yang negatif," ungkapnya.
Selain membangun hubungan yang harmonis antarsesama, Ahimsa Karma juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap alam dengan menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, serta menghindari tindakan yang merusak alam. Sikap tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga keberlangsungannya.
Menutup siaran, Ida Kadek Ariani mengajak umat Hindu menjadikan Ahimsa sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. "Jadikan non-kekerasan sebagai tindakan utama yang dilakukan secara konsisten agar kehidupan dipenuhi kedamaian, kesejahteraan, dan karma yang baik," pesannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....