Mengapa Phalan Yadnya Tak Selalu Berupa Kekayaan?
- 09 Jul 2026 07:44 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, edisi Rabu, 8 Juli 2026, mengangkat tema Phalan Yadnya yang membahas makna buah atau hasil dari pelaksanaan yadnya dalam kehidupan umat Hindu. Dialog antara Ajik Tibah dan Beli Kejoer tersebut menekankan bahwa nilai utama yadnya tidak diukur dari besarnya persembahan, melainkan dari ketulusan hati, keseimbangan, dan kesadaran spiritual dalam menjalankannya.
Tibah menjelaskan bahwa yadnya merupakan bentuk pengorbanan suci yang harus dilaksanakan sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri hingga menimbulkan beban bagi kehidupan keluarga. "Jangan kita melaksanakan yadnya karena memaksakan kemampuan," ujarnya saat mengingatkan pentingnya menyesuaikan pelaksanaan yadnya dengan kondisi ekonomi masing-masing.
Dalam pembahasan itu dijelaskan pula bahwa keseimbangan menjadi prinsip utama agar yadnya tetap memberikan manfaat lahir dan batin. "Tujuan yadnya adalah menghadirkan keseimbangan lahir dan batin," kata Kejoer, seraya menegaskan bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan bijaksana akan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan.
Selain menjadi wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yadnya juga dipandang sebagai sarana membangun rasa cinta kasih kepada sesama dan alam semesta. Tibah dan Kejoer menyebutkan bahwa setiap persembahan hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus tanpa didorong oleh keinginan untuk dipuji atau menunjukkan kemewahan.
Pembahasan juga menyoroti bahwa pelaksanaan Dewa Yadnya merupakan bagian dari kewajiban spiritual umat Hindu sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah kehidupan. "Yadnya adalah bukti cinta kasih yang diwujudkan melalui pengorbanan," ungkap Tibah ketika menjelaskan makna spiritual di balik setiap persembahan.
Di akhir siaran, masyarakat diajak memahami bahwa phalan yadnya tidak selalu berupa keberhasilan materi, melainkan ketenangan batin, kesehatan, dan keharmonisan hidup yang dirasakan setelah melaksanakan yadnya dengan ikhlas. "Buah yadnya yang paling utama adalah kedamaian dalam hidup," tutup Kejoer, sembari mengajak umat menjadikan yadnya sebagai jalan membangun keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....