Pohon Intaran, Warisan Herbal Bali dan Sarat Mitologi
- 28 Mei 2026 11:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam penerapannya, pohon intaran dikenal sebagai salah satu bagian dari usadha Bali. Istilah usadha berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “ausadha”, yang berarti tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Secara lebih luas, usadha Bali dimaknai sebagai tata cara pencegahan, pengobatan, hingga pemulihan penyakit, baik yang bersifat sekala maupun niskala.
Usadha Bali terbagi ke dalam beberapa jenis, salah satunya Usadha Taru Pramana. Ilmu pengobatan ini lahir dari tapa brata seorang mpu terkenal, yakni Mpu Kuturan. Berawal dari kekhawatiran terhadap wabah penyakit cakbyag atau mati mendadak yang terjadi pada masa itu, Mpu Kuturan kemudian melakukan pertapaan. Dalam pertapaannya, beliau memperoleh pawisik atau petunjuk dari Bhatari Durga berupa kemampuan mendengar suara pepohonan di hutan yang menjelaskan manfaat masing-masing pohon untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dari peristiwa tersebut lahirlah lontar Taru Pramana.
Lontar Taru Pramana merupakan naskah pengobatan tradisional berbasis herbal yang memuat berbagai jenis tanaman obat beserta khasiatnya. Pengobatan tradisional ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta dinilai memiliki efek samping yang lebih minim bagi kesehatan manusia. Di dalam lontar tersebut tercatat sekitar 202 jenis tanaman obat yang dipercaya berkhasiat, salah satunya adalah tanaman intaran.
Pohon intaran dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 20 meter. Pohon ini memiliki batang dengan kulit yang tebal, sementara daunnya berbentuk lonjong dengan susunan menyirip kasar, bertepi bergerigi, dan ujung yang meruncing. Buah intaran termasuk jenis buah berbiji dengan ukuran sekitar 1 cm dan bentuk agak lonjong. Pohon ini biasanya berbuah satu hingga dua kali dalam setahun.
Biji intaran dilapisi cangkang keras berwarna cokelat, sedangkan bagian dalamnya memiliki daging buah berwarna putih. Susunan daunnya berpola spiral dan berkumpul di ujung ranting sehingga membentuk daun majemuk. Pada setiap ujung tangkai terdapat anak daun berjumlah genap, sekitar 8 hingga 16 helai. Daunnya berwarna cokelat kehijauan, sedikit melengkung menyerupai sabit, berbentuk simetris, dengan panjang sekitar 5 cm dan lebar antara 3 hingga 4 cm.
Daun intaran memiliki nilai mitologis dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali karena kerap digunakan sebagai pelengkap sarana upacara keagamaan, khususnya dalam rangkaian upacara Pitra Yadnya. Pada prosesi Mreteka Layon atau memandikan jenazah, umat Hindu percaya bahwa penggunaan daun intaran pada kedua sisi alis jenazah yang telah dimandikan akan membawa pengaruh pada proses reinkarnasinya kelak, yakni memiliki bentuk alis yang indah dan melengkung tajam menyerupai daun intaran. Dalam pelaksanaannya, selembar daun intaran ditempatkan di setiap sisi alis dengan posisi ujung daun mengarah ke bagian luar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....