Hapus Gengsi Ritual, Umat Hindu Bali Jangan Tertekan Standar Sosial Banten

  • 04 Jul 2026 06:20 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Tekanan psikologis akibat tingginya standar sosial dalam pembuatan sarana upakara di tengah masyarakat modern, disinyalir menjadi pemicu utama munculnya desakan untuk mengurangi tradisi mebanten. Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., mengungkapkan fenomena ini memerlukan edukasi yang masif, agar umat tidak terjebak dalam perlombaan kemewahan ritual, yang justru mencederai esensi ketulusan dan kemampuan finansial masing-masing keluarga.

Nyoman Arya menambahkan, banyak keluarga di perkotaan merasa terbebani secara mental, karena adanya anggapan keliru bahwa kualitas spiritualitas seseorang diukur dari besar kecilnya fisik banten, yang dihaturkan ke hadapan publik. Akibat salah kaprah tersebut, sebagian masyarakat merasa cemas dan memilih usulan ekstrem untuk membatasi ritual harian, dibandingkan harus menanggung beban sosial dari lingkungan sekitarnya.

Nyoman Arya mengingatkan pentingnya meluruskan pola pikir umat, agar kembali pada esensi ajaran sastra suci. "Ada keluarga yang merasa sangat tertekan karena standar sosial dalam membuat banten sengaja ditinggikan secara artifisial, padahal kemampuan ekonomi setiap kepala keluarga jelas berbeda-beda," ujarnya ketika berbincang dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.

Nyoman Arya menjelaskan sastra Hindu sebenarnya telah mengantisipasi dinamika ekonomi ini, dengan menyediakan pilihan paket upakara yang sangat fleksibel melalui tingkatan Utama, Madya, hingga Nista. Umat seharusnya diberikan edukasi yang mencerahkan, bahwa menghaturkan tingkatan terkecil seperti Nistaning Nista sama sekali tidak mengurangi nilai pemujaan di hadapan Tuhan.

Penyederhanaan banten secara bijaksana dengan membuang unsur gengsi, dinilai jauh lebih sehat bagi keharmonisan internal keluarga, daripada menghentikan kewajiban Nitya Yadnya itu sendiri. Melalui pemahaman keagamaan yang matang, masyarakat dapat menjalankan swadharma spiritualnya secara tenang tanpa dibayangi oleh ketakutan dinilai rendah oleh orang lain.

Nyoman Arya menegaskan bahwa esensi sejati dari persembahan terletak pada ketulusan pikiran dan bukan pada kemegahan materi yang dipamerkan. "Masyarakat harus berani menyesuaikan ukuran banten sesuai kemampuan keuangan, agar spiritualitas tetap terjaga melalui edukasi yang tepat, bukan malah meniadakan tradisi luhur yang sudah berjalan,"ucap Nyoman Arya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....